<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>IIQJKT-R Collection:</title>
  <link rel="alternate" href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/1715" />
  <subtitle />
  <id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/1715</id>
  <updated>2026-04-06T22:23:56Z</updated>
  <dc:date>2026-04-06T22:23:56Z</dc:date>
  <entry>
    <title>Rahasia Al-Qur'an Tafsir Bercorak Sufi untuk Pengembangan Jiwa</title>
    <link rel="alternate" href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4210" />
    <author>
      <name>Siti Rohmah</name>
    </author>
    <id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4210</id>
    <updated>2025-07-18T09:40:40Z</updated>
    <published>2024-12-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Rahasia Al-Qur'an Tafsir Bercorak Sufi untuk Pengembangan Jiwa
Authors: Siti Rohmah
Abstract: Al-Qur'an, sebagai kitab suci umat Islam, memiliki dimensi yang&#xD;
mendalam dan tak terbatas, memberikan petunjuk dalam berbagai&#xD;
aspek kehidupan manusia. Salah satu dimensi yang menarik dan&#xD;
mendalam dalam memahami Al-Qur'an adalah melalui tafsir sufi,&#xD;
yang menekankan makna batiniah atau esoteris di balik ayat-ayat&#xD;
suci. Tafsir sufi tidak hanya membahas makna literal atau hukum dari&#xD;
Al-Qur'an, tetapi juga menyelami rahasia tersembunyi yang dapat&#xD;
membawa transformasi jiwa dan kedekatan dengan Tuhan. Dalam&#xD;
perspektif ini, Al-Qur'an dipandang sebagai jalan menuju&#xD;
pengembangan spiritual dan penyucian batin yang mengantarkan&#xD;
manusia kepada realitas Ilahi. Tafsir sufi, yang dikenal dengan&#xD;
pendekatannya yang simbolis dan metaforis, menekankan&#xD;
pentingnya perjalanan ruhani untuk mengenal hakikat diri dan&#xD;
Tuhan. Kaum sufi meyakini bahwa setiap ayat dalam Al-Qur'an&#xD;
memiliki makna yang lebih dalam yang dapat diungkap melalui&#xD;
pengalaman mistis dan pembersihan batin. Al-Ghazali, Ibn Arabi,&#xD;
Rumi, dan tokoh-tokoh sufi lainnya memberikan kontribusi besar&#xD;
dalam menguraikan bagaimana Al-Qur'an dapat menjadi sarana&#xD;
untuk mencapai makrifat, yaitu pengenalan hakiki kepada Allah.Dalam buku ini, kita akan mengeksplorasi bagaimana tafsir&#xD;
bercorak sufi membuka tabir rahasia Al-Qur'an, dan bagaimana&#xD;
pendekatan ini dapat menjadi sumber pencerahan bagi&#xD;
pengembangan jiwa. Dengan fokus pada perjalanan spiritual yang&#xD;
dilalui seorang mukmin, tafsir sufi mengajarkan bahwa hidup di&#xD;
dunia ini bukan hanya tentang pemenuhan kewajiban syariah secara&#xD;
lahiriah, tetapi juga tentang penyucian hati dan mendekatkan diri&#xD;
kepada Sang Pencipta. Tafsir ini menawarkan pandangan holistik&#xD;
yang membantu manusia memahami tujuan hidupnya, serta&#xD;
bagaimana mencapai kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat</summary>
    <dc:date>2024-12-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Menafsir Ulang Gender dalam Al-Qur’an: Kritik Falosentrisme dan Rekonsiderasi Stereotipe Tafsir Patriarki</title>
    <link rel="alternate" href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4188" />
    <author>
      <name>Nur Arfiyah Febriani</name>
    </author>
    <id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4188</id>
    <updated>2025-03-26T01:11:23Z</updated>
    <published>2025-03-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Menafsir Ulang Gender dalam Al-Qur’an: Kritik Falosentrisme dan Rekonsiderasi Stereotipe Tafsir Patriarki
Authors: Nur Arfiyah Febriani
Abstract: Buku ini mencoba untuk mengurai salah satu faktor Bpenyebab stereotipe agama Islam sebagai agama&#xD;
patriarkis, yaitu pemahaman dari ayat dan hadis yang&#xD;
dipahami tekstual dan parsial sehingga terkesan misoginis&#xD;
melalui karya mufassir laki-laki. Stereotipe dan faktor&#xD;
penyebabnya ini perlu dibaca ulang agar pembaca juga lebih bijak&#xD;
dalam menilai pemikiran para mufassir. Di sisi lain, pembacaan&#xD;
terhadap ayat dan hadis memerlukan seperangkat ilmu dan&#xD;
langkah untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif&#xD;
tentang perspektif Al-Qur’an serta tolak ukur penafsiran agar&#xD;
penilaian terhadap pemikiran mufassir dapat lebih obyektif. Buku&#xD;
ini hadir untuk mengakomodir masalah mendasar dalam&#xD;
stereotipe agama Islam dan kebutuhan langkah penafsiran yang&#xD;
dapat menghadirkan penafsiran yang steril dari bias gender.&#xD;
Buku ini mengurai faktor penyebab stereotipe Islam sebagai&#xD;
agama patriaki. Penulis berhasil merekonsiderasi bahwa jika&#xD;
ayat dan hadis dipahami komprehensif dengan metode yang&#xD;
tepat, sejatinya tidak ada ayat dan hadis yang misoginis.&#xD;
Metode gender writing adalah sebuah karya monumental di&#xD;
tengah perdebatan teoretis tentang apakah ajaran agama&#xD;
masih relevan dalam diskursus gender kontemporer</summary>
    <dc:date>2025-03-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>PRESKRIPSI KAJIAN QIRA’AT AL-QUR’AN</title>
    <link rel="alternate" href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/3760" />
    <author>
      <name>Romlah Widayati</name>
    </author>
    <id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/3760</id>
    <updated>2024-10-08T06:49:37Z</updated>
    <published>2023-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: PRESKRIPSI KAJIAN QIRA’AT AL-QUR’AN
Authors: Romlah Widayati
Abstract: Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) adalah salah satu perguruan tinggi swasta yang memilikii keunggulan dalam bidang mata kuliah ke-Qur’anan. Mata kuliah keunggulannya antara lain adalah: tahfizh Al-Qur’an, nagham, ulumul Qur’an, dan Qira’at Al-Qur’an.  Mata kuliah inilah yang menjadi standard kelulusan mahasiswa.  Karenanya IIQ dikenal dikalangan masyarakat sebagai perguruan yang mampu menjadikan lulusannya mahir dalam bidang ini. Tak heran banyak lembaga pendidikan formal maupun informal, instansi pemerintah maupun swasta yang melamar lulusannya untuk mengajar dalam bidang kequr’anan tersebut.  Kemampuan membaca Al-Qur’an dengan qira’at sab’ (qira’at Tujuh) merupakan suatu keharusan, karena pada dasarnya qira’at Al-Qur’an adalah salah satu disiplin ulum Al-Qur’an (ilmu-ilmu Al-Qur’an) yang mengkaji tentang sistem membaca (qira’at) Al-Qur’an, dimana penekanannya lebih banyak diarahkan pada aspek bacaan. Sedang aspek bacaan erat kaitannya dengan kaidah-kaidah/teori-teori yang tertuang dalam literature Arab yang bersumber dari nazham “Syathibiyyah” berjumlah 1173 bait. Artinya pengkaji dituntut mampu menguasai kaidah-kaidah yang tertuang dalam nazham tersebut dan mampu menerapkannya dalam membaca Al-Qur’an. Dalam hal ini ditekan pada mata kuliah qira’at, kenapa? Qira’at Al-Qur’an bisa dipelajari oleh seluruh mahasiswa, tanpa melihat adanya kemampuan suara yang bagus dan indah, maupun kemampuan menghafal Al-Qur’an.</summary>
    <dc:date>2023-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>DIMENSI FIQIH ABU HAYYAN   DALAM TAFSÎR AL-BAHR AL-MUHÎTH</title>
    <link rel="alternate" href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/3759" />
    <author>
      <name>Romlah Widayati</name>
    </author>
    <id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/3759</id>
    <updated>2024-10-07T07:44:29Z</updated>
    <published>2023-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: DIMENSI FIQIH ABU HAYYAN   DALAM TAFSÎR AL-BAHR AL-MUHÎTH
Authors: Romlah Widayati
Abstract: rofil kitab-kitab tafsir dan para penulisnya secara umum telah dibahas oleh Husein al-Dzahabi dalam bukunya yang terkenal di kalangan pengkaji tafsir: al-Tafsîr wa al-Mufasirûn. Di dalamnya dibahas tentang Tafsîr al-Bahr al-Muhîth karya Abu Hayyan al-Andalusi (654-754). Tafsir ini digolongkan ke dalam tafsir bi al-ra’yi dengan corak lughawi.1&#xD;
Tafsir bi al-ra’yi adalah menafsirkan Al-Qur’an dengan menetapkan rasio sebagai titik tolaknya. Tafsir bi al-ra’yi dinamakan juga dengan al-tafsîr bi al-ijtihâdi. Kendatipun menjadikan rasio sebagai titik tolak penafsirannya, mufasir bi al-ra’yi dalam menafsirkan ayat tidak bisa lepas dari nas Al-Qur’an – sebagai sarana menafsirkan — maupun riwayat-riwayat dari Nabi, di samping beberapa perangkat lainnya, seperti bahasa, syair-syair Arab (sya’ir jahili), asbâb al-nuzûl,nâsikh mansûkh, dan lainnya. Sebagai tafsir bi al-ra’yi dengan corak lughawi, Tafsîr al-Bahr al-Muhîth banyak diwarnai nuansa bahasa, seperti uraian nahwu, sharf, bayân, dan badî’ disertai sya’ir-sya’ir sebagai dalil pendukungnya. Dari penggunaan bahasa sebagai media ijtihad dalam menafsirkan Al-Qur’an dengan pendukung hadis, atsar, sabab nuzul, nasikh mansukh dan lainnya inilah, Tafsîr al-Bahr al-Muhîth dikategorikan dalam tafsir bi al-ra’yi al-mahmûd.</summary>
    <dc:date>2023-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
</feed>

