<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>IIQJKT-R Community:</title>
  <link rel="alternate" href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/6" />
  <subtitle />
  <id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/6</id>
  <updated>2026-08-09T07:58:15Z</updated>
  <dc:date>2026-08-09T07:58:15Z</dc:date>
  <entry>
    <title>Nirkekerasan Terhadap Perempuan (Studi Analisis Ayat-Ayat Kesetaraan dan Perlindungan Perspektif Tafsir Maqasidi)</title>
    <link rel="alternate" href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4839" />
    <author>
      <name>Iffaty Zamimah, 317440028</name>
    </author>
    <id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4839</id>
    <updated>2026-07-27T08:51:16Z</updated>
    <published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Nirkekerasan Terhadap Perempuan (Studi Analisis Ayat-Ayat Kesetaraan dan Perlindungan Perspektif Tafsir Maqasidi)
Authors: Iffaty Zamimah, 317440028
Abstract: Kekerasan kepada perempuan merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan isu global dengan dampak besar pada korban, keluarga, dan masyarakat. Kekerasan berbasis gender bertentangan dengan falsafah hidup bangsa, setiap warga negara berhak sepenuhnya mendapatkan perlindungan sebagaimana tertera dalam UUD 1945 beserta aturan turunannya. Kekerasan berbasis gender terjadi tanpa memandang usia, kelas, ras, dan suku. Secara global, diperkirakan 30 persen wanita di atas lima belas tahun sudah pernah mendapatkan kekerasan. &#xD;
Penelitian ini termasuk ke dalam kategori kajian kepustakaan (library research) yang mengeksplor penafsiran tiga tafsir yang dikategorikan memiliki pendekatan maqāṣidī tentang ayat-ayat kesetaraan dan perlindungan perempuan. Penelitian ini bersifat deskriptif dan selanjutnya dianalisis dengan pendekat tafsir maqāṣidī Waṣfī ‘Āsyūr Abū Zayd . Penulis juga membaca hasil penafsiran ulama dengan pendekatan teori sosial.&#xD;
Hasil penelitian ini menunjukkan : pertama, maqāṣid ’āmmah kesetaraan dalam upaya perlindungan perempuan menekankan kesetaraan laki-laki dan perempuan adalah mutlak. Keduanya memiliki kemuliaan dan memiliki mandat yang sama sebagai hamba dan khalifah serta wajib berinteraksi dengan prinsip kesalingan dan kebaikan. Perlindungan perempuan baik fisik, psikis maupun ekonomi adalah menjadi hak bagi perempuan. Adapun al-maqāṣid al-khāṣṣah dari bentuk-bentuk kekerasan yaitu fisik tergambar pada larangan untuk menyakiti perempuan atas fisiknya, baik berupa pukulan, trafficking hingga pembunuhan. Pada kekerasan psikis menyoroti praktik poligami, qadzaf dan bullying, Perlindungan kekerasan ekonomi menekankan hak yang dapat diperoleh baik dari mahar hingga hak ketika dicerai. Semua kekerasan ini memiliki dampak yang luas sehingga sangat perlu dicegah.&#xD;
Kedua, Reinterpretasi tafsir maqāṣidī memungkinkan penerapan prinsip-prinsip syariah secara relevan dengan kondisi dan tantangan zaman modern. kekerasan dapat dimaknai dari hal yang paling halus, karena kekerasan kadang terjadi tanpa disadari. Semua ayat-ayat yang menjadi kajian menunjukkan perlindungan, hal ini selaras dengan tujuan syariat yang memiliki tujuan menjaga jiwa, agama, akal, nasab dan harta. Semua perlindungan tersebut sangat dinamis dalam bentuknya aplikasinya sesuai dengan illat dan kondisi Sehingga pencegahan maupun penanganannya sangat dapat berkembang.</summary>
    <dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Konsep Ketahanan Keluarga dalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Ayat Kisah Keluarga Nabi Perspektif Sosiologi Profetik)</title>
    <link rel="alternate" href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4820" />
    <author>
      <name>Siti Mukhliso, 316440020</name>
    </author>
    <id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4820</id>
    <updated>2026-06-03T08:04:21Z</updated>
    <published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Konsep Ketahanan Keluarga dalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Ayat Kisah Keluarga Nabi Perspektif Sosiologi Profetik)
Authors: Siti Mukhliso, 316440020
Abstract: Kerapuhan struktur keluarga di tengah arus perubahan sosial global menjadi tantangan serius bagi ketahanan institusi keluarga. Dalam konteks ini, Al-Qur'an sebagai sumber ajaran utama Islam menyimpan narasi-narasi keluarga Nabi yang sarat makna dan nilai yang relevan untuk ditelaah secara akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep ketahanan keluarga dalam Al-Qur'an melalui analisis tematik terhadap kisah-kisah keluarga Nabi dengan menggunakan pendekatan sosiologi profetik.&#xD;
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interdisipliner yang memadukan tafsir mauḍū’i terhadap ayat-ayat kisah keluarga Nabi dalam Al-Qur'an dengan teori-teori sosiologi keluarga. Data primer diperoleh dari ayat-ayat Al-Qur'an beserta kitab-kitab tafsir klasik dan kontemporer seperti TafsirAţ-Ţabarī, al- Mīzan, al-Tahrir wa al-Tanwir, dan al-Munīr. Sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur sosiologi keluarga dan teori sosiologi profetik yang dikembangkan Kuntowijoyo. Analisis dilakukan melalui metode sintetik-analitik untuk menemukan konstruksi teori ketahanan keluarga yang holistik integratif.&#xD;
Penelitian ini mengukuhkan relevansi teori sosiologi profetik Kuntowijoyo (2004)sebagai kerangka konseptual yang mampu membaca ulang nilai-nilai Al-Qur'an secara kontekstual dalam menghadapi tantangan sosial kontemporer. Dengan menelaah kisah-kisah keluarga para nabi  jika dibaca melalui pendekatan tafsir maudhu’i dan didekati dengan paradigma sosiologi profetik, berfungsi sebagai data wahyu yang sahih dan otoritatif dalam membentuk konsep sosial, termasuk konsep ketahanan keluarga, ditemukan bahwa nilai-nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi bukan hanya terartikulasikan secara naratif, tetapi juga membentuk struktur ketahanan keluarga yang integral. Penelitian ini juga secara tidak langsung menguatkan metodologi tafsir maqāshidi dalam menemukan aspek tujuan  Al-Qur'an baik aspek maqāshid syariah ataupun aspek maqāshid Al-Qur'an.   &#xD;
Penelitian ini menawarkan konstruksi konsep  baru tentang  “Ketahanan Holistik Keluarga Profetik”, yakni model teoritis yang menempatkan keluarga sebagai subjek aktif perubahan sosial berbasis spiritualitas transendental dan nilai-nilai profetik. Konsep  ini bukan hanya hasil analisa studi ayat kisah dengan pendekatan sosiologi profetik yang dikembangkan Kuntowijoyo, tetapi juga memperluasnya dengan menegaskan pentingnya narasi Qur’ani sebagai basis epistemologis dalam membangun konsepsi sosiologis yang berbasis wahyu. darinya dapat ditarik prinsip-prinsip sosial yang dapat diformulasikan ke dalam bangunan teori, bukan sekadar normatif-teologis, tetapi juga ilmiah-sosiologis. Oleh karena itu, konsep “Ketahanan Holistik  Keluarga Profetik” yang ditawarkan dalam disertasi ini berpijak pada Qur’an tidak hanya sebagai teks suci, tetapi sebagai sumber ilmu sosial yang transendental dan kontekstual.</summary>
    <dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Antisemitisme dalam Tafsir Haraki (Studi Kritik-Komparatif Tafsir Fi Zilal Al-Qur’an dan Min Wahyi Al-Qur’an)</title>
    <link rel="alternate" href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4807" />
    <author>
      <name>Mohamad Mualim, 321440080</name>
    </author>
    <id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4807</id>
    <updated>2026-04-18T08:07:40Z</updated>
    <published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Antisemitisme dalam Tafsir Haraki (Studi Kritik-Komparatif Tafsir Fi Zilal Al-Qur’an dan Min Wahyi Al-Qur’an)
Authors: Mohamad Mualim, 321440080
Abstract: Penelitian ini tentang penafsiran bernuansa antisemitisme dalam tafsir ḥaraki, dan pengaruhnya terhadap terhadap kelompok pergerakan, baik langsung maupun tidak langsung, dalam kaitan politik maupun non politik. Riset ini penting dilakukan untuk memberikan wawasan lebih luas dalam memahami tafsir agar sesuai dengan panduan Al-Qur’an.&#xD;
Disertasi ini sejalan dengan karya Muhammad Asgar Muzakki (2025) dalam disertasinya tentang “Hadis-hadis bercorak antisemitisme: tinjauan hermeneutika fazlur rahman atas hadis konflik dan prediktif.” pada sisi kajian Antisemitiseme dalam terkait konflik dan prediksi. Berbeda dengan karya Abdullah Al-Thail, dalam bukunya “Yahudi Sang Penghancur Dunia” pada cara mendudukkan Semit atau Yahudi, terlebih di era konflik dan peperangan seperti yang terjadi pada kelompok pejuang Gaza-Palestina, Hizbullah, Houthi, Iran Melawan Israel ataupun kelompok pejuang yang lain dan tentu hal itu penting karena menjadi acuan dalam memupuk berbagai hal dalam situasi yang terjadi.&#xD;
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif library riset, dengan pendekatan historiografi dengan teknik analisis Kritik-Komparatif. Adapun sumber penelitian menggunakan sumber primer berupa kitab tafsir Fī Ẓilᾱl Al-Qur’an karya Sayyid Qutb dan Min Wahil Qur’an karya Sayyid Husayn Fadlallah. Serta data sekunder dari berbagai jurnal, artikel dan karya lainnya yang relevan. Data-data tersebut akan dianalisis secara kritis-komparatif menggunakan pendekatan historis.&#xD;
Disertasi ini membuktikan bahwa: Pertama, tafsir yang ditulis oleh tokoh bermadzhab Sunni, Sayyid Qutb (w.1966) cukup tajam dalam mengkritik hal-hal terkait semitisme. Konsep yang digunakan tidak eksplisit namun lebih pada penggunaan bahasa yang implisit terkait Bani Israil dan Yahudi, menggunakan bahasa yang sangat kritikal, ideologis, dan konfrontatif terhadap mereka, dengan menekankan watak permusuhan, pengkhianatan, dan penyimpangan historis kaum Yahudi terhadap risalah Ilahi. Kedua, tafsir yang ditulis oleh tokoh bermadzhab syiah imamiyyah, Husayn Fadlallah (w. 2010) cenderung lebih moderat dalam menjelaskan terkait semitisme dalam Al-Qur’an. Ia menghindari pendekatan yang generalis atau emosional terhadap kaum Yahudi. Ia lebih analitis, kontekstual, dan kritis secara sosial-politik, serta tetap menjaga etika keilmuan dan objektivitas historis dalam membaca ayat-ayat tentang Bani Israil atau Yahudi. Ketiga, pengaruh tafsir Sayyiq Qutb lebih kuat dalam pergerakan yang bergembang dalam kelompok Ikhwanul Muslimin, dibanding pengaruh tafsir Min Wahyi Al-Qur’an terhadap kelompok gerakan Hezbullah di Lebanon.</summary>
    <dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Taujih Al-Qira’at dalam Tafsir Marah Labid Karya Syekh Nawawi Al Bantani (1230 H/ 1813 M – 1314 H/1897 M</title>
    <link rel="alternate" href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4614" />
    <author>
      <name>Istiqomah, 319440062</name>
    </author>
    <id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4614</id>
    <updated>2025-12-04T04:32:20Z</updated>
    <published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Taujih Al-Qira’at dalam Tafsir Marah Labid Karya Syekh Nawawi Al Bantani (1230 H/ 1813 M – 1314 H/1897 M
Authors: Istiqomah, 319440062
Abstract: Tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi al-Bantani memiliki posisi yang sangat penting di kalangan masyarakat Muslim di Indonesia, baik sebagai bahan kajian Islam tradisional maupun kajian virtual, serta menjadi objek penelitian bagi para akademisi Islam. Meskipun qira'at sebagai salah satu referensi dalam tafsir ini telah menjadi perhatian beberapa peneliti, kajian-kajiannya belum mencapai pembahasan mendalam terkait kerangka konseptual dan metodologis yang mendasarinya.&#xD;
Disertasi ini mendukung pendapat Sukhairu (2013), Natasya (2017), Winardi (2020), dan Ikmal Zaidi tentang eksistensi qira’at mutawatirah dan qira’at syazzah dalam tafsir Marah Labid, tetapi menolak asumsi bahwa qira’at mutawatirah di dalamnya terdiri atas qira’at sab‘ah dan qira’at ‘asyrah saja. Karena, selain keduanya, juga terdapat qira’at samaniyah. Demikian juga dari segi objek kajiannya, Syekh Nawawi tidak hanya fokus pada farsy al-huruf, melainkan juga menyinggung sembilan qa‘idah usuliyah. &#xD;
Penelitian ini mengembangkan konsep taujih al-qira’at at-Tayyar (1413 H/1993 M), yaitu memperluas ruang lingkupnya dari tiga aspek (linguistik, interpretasi, dan performansi), menjadi lima aspek dengan menambahkan aspek ortografi dan historis. &#xD;
Untuk memperoleh gambaran utuh tentang konsep taujih al-qira’at Syekh Nawawi, data dikumpulkan dengan metode dokumentasi dari sumber primer berupa tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi al-Bantani. Pembacaan data dilakukan dengan metode analisis wacana pendekatan sejarah yang diadaptasi dari Ruth Wodak, dengan pendekatan ilmu qira’at, linguistik dan ilmu-ilmu Al-Qur’an.&#xD;
Hasil penelitian ini menunjukkan taujih al-qira’at dalam tafsir Marah Labid menghidupkan kajian qira’at samaniyah yang digagas Tahir ibn Galbun (w. 399 H/1008 M). Kajian qira’at mutawatirah-nya juga terkonfirmasi dalam qira’at as-Sab‘ah versi Ibn Mujahid (w. 324 H/935 M), ad-Dani (w. 444 H/1052 M), dan asy-Syatibi (w. 590 H/1194 M), serta qira’at ‘asyrah versi Ibn al-Jazari (w. 833 H/1429 M). Taujih al-qira’at-nya disajikan dengan metode deskriptif-argumentatif (wasfi-ta‘lili) dalam bentuk taujih nahwi, sarfi, balagi, lahji, rasmi, tafsiri, fiqhi, isnadi, nuzuli, tarikhi, dan waqfi.</summary>
    <dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
</feed>

