<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>IIQJKT-R Collection:</title>
    <link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/78</link>
    <description />
    <pubDate>Thu, 23 Apr 2026 00:30:03 GMT</pubDate>
    <dc:date>2026-04-23T00:30:03Z</dc:date>
    <item>
      <title>Antisemitisme dalam Tafsir Haraki (Studi Kritik-Komparatif Tafsir Fi Zilal Al-Qur’an dan Min Wahyi Al-Qur’an)</title>
      <link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4807</link>
      <description>Title: Antisemitisme dalam Tafsir Haraki (Studi Kritik-Komparatif Tafsir Fi Zilal Al-Qur’an dan Min Wahyi Al-Qur’an)
Authors: Mohamad Mualim, 321440080
Abstract: Penelitian ini tentang penafsiran bernuansa antisemitisme dalam tafsir ḥaraki, dan pengaruhnya terhadap terhadap kelompok pergerakan, baik langsung maupun tidak langsung, dalam kaitan politik maupun non politik. Riset ini penting dilakukan untuk memberikan wawasan lebih luas dalam memahami tafsir agar sesuai dengan panduan Al-Qur’an.&#xD;
Disertasi ini sejalan dengan karya Muhammad Asgar Muzakki (2025) dalam disertasinya tentang “Hadis-hadis bercorak antisemitisme: tinjauan hermeneutika fazlur rahman atas hadis konflik dan prediktif.” pada sisi kajian Antisemitiseme dalam terkait konflik dan prediksi. Berbeda dengan karya Abdullah Al-Thail, dalam bukunya “Yahudi Sang Penghancur Dunia” pada cara mendudukkan Semit atau Yahudi, terlebih di era konflik dan peperangan seperti yang terjadi pada kelompok pejuang Gaza-Palestina, Hizbullah, Houthi, Iran Melawan Israel ataupun kelompok pejuang yang lain dan tentu hal itu penting karena menjadi acuan dalam memupuk berbagai hal dalam situasi yang terjadi.&#xD;
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif library riset, dengan pendekatan historiografi dengan teknik analisis Kritik-Komparatif. Adapun sumber penelitian menggunakan sumber primer berupa kitab tafsir Fī Ẓilᾱl Al-Qur’an karya Sayyid Qutb dan Min Wahil Qur’an karya Sayyid Husayn Fadlallah. Serta data sekunder dari berbagai jurnal, artikel dan karya lainnya yang relevan. Data-data tersebut akan dianalisis secara kritis-komparatif menggunakan pendekatan historis.&#xD;
Disertasi ini membuktikan bahwa: Pertama, tafsir yang ditulis oleh tokoh bermadzhab Sunni, Sayyid Qutb (w.1966) cukup tajam dalam mengkritik hal-hal terkait semitisme. Konsep yang digunakan tidak eksplisit namun lebih pada penggunaan bahasa yang implisit terkait Bani Israil dan Yahudi, menggunakan bahasa yang sangat kritikal, ideologis, dan konfrontatif terhadap mereka, dengan menekankan watak permusuhan, pengkhianatan, dan penyimpangan historis kaum Yahudi terhadap risalah Ilahi. Kedua, tafsir yang ditulis oleh tokoh bermadzhab syiah imamiyyah, Husayn Fadlallah (w. 2010) cenderung lebih moderat dalam menjelaskan terkait semitisme dalam Al-Qur’an. Ia menghindari pendekatan yang generalis atau emosional terhadap kaum Yahudi. Ia lebih analitis, kontekstual, dan kritis secara sosial-politik, serta tetap menjaga etika keilmuan dan objektivitas historis dalam membaca ayat-ayat tentang Bani Israil atau Yahudi. Ketiga, pengaruh tafsir Sayyiq Qutb lebih kuat dalam pergerakan yang bergembang dalam kelompok Ikhwanul Muslimin, dibanding pengaruh tafsir Min Wahyi Al-Qur’an terhadap kelompok gerakan Hezbullah di Lebanon.</description>
      <pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4807</guid>
      <dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Taujih Al-Qira’at dalam Tafsir Marah Labid Karya Syekh Nawawi Al Bantani (1230 H/ 1813 M – 1314 H/1897 M</title>
      <link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4614</link>
      <description>Title: Taujih Al-Qira’at dalam Tafsir Marah Labid Karya Syekh Nawawi Al Bantani (1230 H/ 1813 M – 1314 H/1897 M
Authors: Istiqomah, 319440062
Abstract: Tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi al-Bantani memiliki posisi yang sangat penting di kalangan masyarakat Muslim di Indonesia, baik sebagai bahan kajian Islam tradisional maupun kajian virtual, serta menjadi objek penelitian bagi para akademisi Islam. Meskipun qira'at sebagai salah satu referensi dalam tafsir ini telah menjadi perhatian beberapa peneliti, kajian-kajiannya belum mencapai pembahasan mendalam terkait kerangka konseptual dan metodologis yang mendasarinya.&#xD;
Disertasi ini mendukung pendapat Sukhairu (2013), Natasya (2017), Winardi (2020), dan Ikmal Zaidi tentang eksistensi qira’at mutawatirah dan qira’at syazzah dalam tafsir Marah Labid, tetapi menolak asumsi bahwa qira’at mutawatirah di dalamnya terdiri atas qira’at sab‘ah dan qira’at ‘asyrah saja. Karena, selain keduanya, juga terdapat qira’at samaniyah. Demikian juga dari segi objek kajiannya, Syekh Nawawi tidak hanya fokus pada farsy al-huruf, melainkan juga menyinggung sembilan qa‘idah usuliyah. &#xD;
Penelitian ini mengembangkan konsep taujih al-qira’at at-Tayyar (1413 H/1993 M), yaitu memperluas ruang lingkupnya dari tiga aspek (linguistik, interpretasi, dan performansi), menjadi lima aspek dengan menambahkan aspek ortografi dan historis. &#xD;
Untuk memperoleh gambaran utuh tentang konsep taujih al-qira’at Syekh Nawawi, data dikumpulkan dengan metode dokumentasi dari sumber primer berupa tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi al-Bantani. Pembacaan data dilakukan dengan metode analisis wacana pendekatan sejarah yang diadaptasi dari Ruth Wodak, dengan pendekatan ilmu qira’at, linguistik dan ilmu-ilmu Al-Qur’an.&#xD;
Hasil penelitian ini menunjukkan taujih al-qira’at dalam tafsir Marah Labid menghidupkan kajian qira’at samaniyah yang digagas Tahir ibn Galbun (w. 399 H/1008 M). Kajian qira’at mutawatirah-nya juga terkonfirmasi dalam qira’at as-Sab‘ah versi Ibn Mujahid (w. 324 H/935 M), ad-Dani (w. 444 H/1052 M), dan asy-Syatibi (w. 590 H/1194 M), serta qira’at ‘asyrah versi Ibn al-Jazari (w. 833 H/1429 M). Taujih al-qira’at-nya disajikan dengan metode deskriptif-argumentatif (wasfi-ta‘lili) dalam bentuk taujih nahwi, sarfi, balagi, lahji, rasmi, tafsiri, fiqhi, isnadi, nuzuli, tarikhi, dan waqfi.</description>
      <pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4614</guid>
      <dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Ragam Qira’at dalam Literatur Tafsir Indonesia (Telaah Historis, Metodologis, dan Ideologis)</title>
      <link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4610</link>
      <description>Title: Ragam Qira’at dalam Literatur Tafsir Indonesia (Telaah Historis, Metodologis, dan Ideologis)
Authors: Mutmainah, 319440065
Abstract: Ragam qira’at telah menjadi bagian integral dalam interpretasi Al-Qur'an. Kajian terkait penggunaannya dalam kitab-kitab tafsir di Indonesia mengalami pergeseran dari abad ke abad. Mulai dari kitab Tarjuman al-Mustafid yang ditulis pada abad ke-17 hingga tafsir kontemporer seperti Tafsir al-Mishbāh, terdapat perbedaan yang mencolok dalam cara ragam qirā’āt ini dicatat dan dianalisis. Perubahan ini menimbulkan pertanyaan mengenai latar belakang sejarah dan faktor-faktor yang menyebabkan penurunan perhatian terhadap qira’at dalam tafsir kontemporer di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sejarah penggunaan ragam qira’at dalam kitab tafsir di Indonesia, menganalisis kualitas ragam qira’at yang digunakan, serta mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran urgensitas ragam qira’at dalam literatur tafsir Indonesia.&#xD;
Penelitian ini mendukung urgensi qira’at dalam penafsiran Al-Qur'an, seperti yang juga diungkap dalam disertasi Sukhairu bin Sulaiman dan tesis Muhammad Alaika Nasrulloh. Namun, penelitian ini menawarkan cakupan yang lebih luas dengan mengkaji berbagai kitab tafsir karya ulama Indonesia, berbeda dengan studi sebelumnya yang lebih fokus pada satu atau dua karya tafsir. Penelitian ini juga sejalan dengan kajian Wawan Djunaedi dan Liizzah Nur Diana mengenai sejarah perkembangan qirā’āt di Indonesia, tetapi dengan fokus khusus pada literatur tafsir. Pendekatan historis dan hermeneutika yang digunakan memberikan perspektif baru dalam memahami ragam qirā’āt dalam kitab tafsir Indonesia, berbeda dengan disertasi Fuad Nawawi yang lebih menitikberatkan pada perbandingan pandangan dua tokoh terhadap qirā’āt.&#xD;
Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan ilmu qirā’āt, analisis sejarah, dan teori hermeneutika Gadamer. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan dianalisis secara deskriptif-analitis untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang penggunaan qirā’āt dalam tafsir di Indonesia.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kitab tafsir di Indonesia memanfaatkan baik qirā’āt mutawātirah maupun qirā’āt syāżżah, dengan variasi penggunaan tergantung pada konteks sosio-politik, intelektualisme, dan prapemahaman mufasir. Perkembangan penggunaan qirā’āt dalam tafsir Indonesia mencerminkan dinamika sosial, politik, dan intelektual yang terus berubah, dari periode klasik yang lebih otoritatif hingga periode kontemporer yang lebih fleksibel dan kontekstual.</description>
      <pubDate>Mon, 01 Jan 2024 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4610</guid>
      <dc:date>2024-01-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Reformulasi Hermeneutika Tafsir Feminis Indonesia: Paradigma, Tipologi, dan Metodologi (Analisis Pemikiran Musdah Mulia dan Faqihuddin Abdul Kodir)</title>
      <link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4589</link>
      <description>Title: Reformulasi Hermeneutika Tafsir Feminis Indonesia: Paradigma, Tipologi, dan Metodologi (Analisis Pemikiran Musdah Mulia dan Faqihuddin Abdul Kodir)
Authors: Ida Kurnia Shofa, 321440089
Abstract: Riset ini bertujuan mengkaji dan membandingkan pemikiran tafsir feminis Musdah Mulia dan Faqihuddin Abdul Kodir secara sistematis melalui analisis epistemologis, metode penafsiran, ideologi, serta relevansi sosial. Penelitian ini relevan karena minimnya kajian yang secara kritis mendialogkan kedua tokoh tersebut. Pendekatan hermeneutika filosofis Gadamer digunakan untuk menganalisis secara kritis bagaimana langkah metodis untuk menemukan kelemahan metodologis teori tafsir keduanya dan memberikan tawaran reformulasi tafsir feminis Indonesia. &#xD;
Hasil riset ini menunjukkan bahwa Musdah masuk dalam kategori progresif-eksklusif yang menitikberatkan pada keterlibatan penuh perspektif perempuan, menekankan pada aspek keseteraan gender, HAM, reformasi hukum Islam, dan kritik terhadap tafsir klasik yang patriarkal. Sebaliknya, Faqihuddin Abdul Kodir masuk dalam kategori progresif-inklusif yang menekankan prinsip kesalingan dan keterlibataran laki-laki dan perempuan secara seimbang dalam relasi gender. Riset ini juga menemukan bahwa tafsir feminis keduanya memiliki implikasi signifikan dalam ranah teologis, sosial, dan hukum. Namun, di sisi lain ditemukan keterbatasan metodologis pada teori tafsir keduanya. Keterbatasan pendekatan Musdah Mulia terletak pada dominannya ideologi modern seperti feminisme dan HAM yang kerap menggantikan otoritas teks wahyu, sehingga menimbulkan risiko epistemic displacement, reduksi terhadap tafsir klasik, kurangnya dialog dengan keilmuan Islam tradisional, bias ideologis dan generalisasi normatif, serta ketiadaan kerangka tafsir yang sistematis. Sementara keterbatasan pendekatan Faqihuddin terletak pada pendekatannya yang terlalu normatif dan etis, dengan menekankan prinsip kesalingan tanpa membongkar struktur kuasa patriarkal dalam teks, jarang menggunakan kritik hermeneutika modern atau teori sosial secara mendalam, dan cenderung pada etikalisasi tanpa kritik struktural. Keduanya juga sama-sama absen dalam kategorisasi atau klasifikasi sistematis terhadap ayat-ayat yang memiliki bias gender struktural, sehingga menganggap seluruh ayat relasi gender dapat direinterpretasi secara hukum tanpa mempertimbangkan konsekuensi hukum pada ayat lain.&#xD;
Dari kritik evaluatif terhadap metode penafsiran Musdah dan Faqihuddin, maka dibentuk tawaran formula sebagai tren baru dalam pembacaan ayat-ayat relasi gender, yaitu tafsir womanis, yang mencakup tiga aspek utama, yaitu prinsip tafsir womanis, tipologi ayat-ayat relasi gender, dan metode tri-dialogis sebagai langkah operasionalnya. Adapun prinsip tafsir womanis meliputi: 1) tauhid, 2) normatif-kontekstual, 3) maqâṣid al-sharî’ah, 4) dialog antar perspektif. Tipologi ayat relasi gender terdiri dari: 1) ayat normatif-teologis, 2) ayat normatif-etis, dan 3) ayat normatif-dogmatis. Dan adapun langkah operasional metode tri-dialogis adalah: 1) analisis teks, 2) analisis konteks, dan 3) analisis subjektifitas penafsir.</description>
      <pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4589</guid>
      <dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
  </channel>
</rss>

