Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/206
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.advisorHamdani Anwar-
dc.contributor.advisorAhmad Fathoni-
dc.contributor.authorAminah, 211410441-
dc.date.accessioned2019-11-14T09:04:22Z-
dc.date.available2019-11-14T09:04:22Z-
dc.date.issued2015-
dc.identifier.urihttp://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/206-
dc.description.abstractTesis dengan judul tersebut di atas, maksudnya ialah ingin mengkaji kisah perjalanan nabi Musa as. dengan nabi Khadhir as. yang terangkum dalam Q.S.Al-Kahfi ayat 60-82. Harapan penulis mengambil tema tersebut adalah dapat menemukan nilai-nilai positif yang terkandung dari kisah perjalanan tersebut dari sudut pandang ilmu tafsir dan hadis. Kajian ini merupakan penelitan kepustakaan atau biasa dikatakan Library Research dengan pendekatan deskriptif-analitis. Karena sifatnya kepustakaan, maka sumber datanya pun diambil dari buku-buku literatur. Dalam hal ini penulis mengumpulkan data data yang berkaitan dengan kisah nabi Musa as. dan nabi Khadhir as. melalui literatur dalam bidang tafsir, sejarah, dan tasawuf. Metode penelitian ini adalah deskriptif yaitu penelitian yang menuturkan, menganalisis, dan mengklarifikasi data yang ada yang ada pelaksanaannya, bukan hanya sampai pada pengumpulan dan penyusunan. Namun, lebih dari itu meliputi analisis dan interpretasi dari data tersebut. Sumber data penelitian ini menggunakan dua jenis kepustakaan, yakni kepustakaan primer dan sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah kitab-kitab tafsir klasik, pertengahan dan modern seperti tafsîr al-Âlûsî, tafsîr ath-Thabarî, tafsîr al-Marâghî, tafsîr Ibn ‘Abbâs, tafsîr Ibnu Katsîr, tafsir al- Misbah. Dan sumber penelitian mengenai keilmuan Khadhir as. yang diambil dari kitab-kitab tasawwuf, penulis akan merujuk kepada kitab Risâlah al- Qusyairiyyah, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-dîn, Futûhât al-Makkiyyah. Adapun langkahlangkahnya adalah : 1) Menampilkan profil al-Alûsî,al-Marâghî, Quraish Shihab, beserta masing-masing karya tafsir mereka; 2) Mengkomparasikan penafsiran ketiga mufassir tersebut dan menganalisisnya, sehingga diketahui corak pemikiran ketiga mufassir tersebut dalam menafsirkan Q.S. Al-Kahfi ayat 60-82; 3) Menelaah hasil penafsiran ketiga mufassir tersebut dan mengungkapkan nilai-nilai dari kisah perjalanan nabi Musa as. dan nabi Khadhir as. yang berkaitan dengan tasawuf sehingga dapat dirumuskan suatu jenis ilmu yang disebut ilmu ladunnî. xiv Inti dari kandungan Q.S. Al-Kahfi ayat 60-82 adalah nabi Musa as. yang diperintahkan oleh Allah untuk berguru kepada nabi Khadhir as. merasa kesulitan untuk memahami pola kinerja ilmu ladunnî. Keilmuan syari’at yang dimiliki oleh nabi Musa as. tidak mampu memahami apa yang telah dilakukan oleh nabi Khadhir as.. Nabi Musa as. yang berjanji untuk bersabar ternyata tidak mampu untuk melakukannya. Sehingga pada akhirnya, nabi Musa as. yang selama perjalanan tidak dapat bersabar menyebabkan perpisahan diantara keduanya. Nilai yang dapat diambil dari kisah tersebut adalah mengenai penjelasan ilmu ladunnî yang hanya dapat diperoleh melalui pendekatan ilmu hikmah dan disiplin spiritual. Secara kesimpulan sebenarnya ilmu ladunnî itu adalah nama lain dari Ilham. Ilham sendiri merupakan salah satu sistem edukasi dari dan untuk diri sendiri dengan kejernihan hati. Selama ini, paradigma seputar metode ladunnî ini dimaknai sebagai ilmu fuj’ah yang dihasilkan secara cepat tanpa melalui proses pembelajaran. Padahal dalam perspektif teori belajar modern, istilah ladunnî lebih dimaknai sebagai kecerdasan luar biasa bagi para pemiliknya yang telah mencapai tingkat kontemplasi spiritual secara utuh. Melalui pendekatan ilmu hikmah dan disiplin spiritual yang ketat, diharapkan jiwa yang telah mencapai kesempurnaan akan mampu menangkap sinyalsinyal yang berada pada diri manusia. Sinyal-sinyal ini dapat ditemukan secara cepat jika ia telah mampu melewati beberapa titik terminal hati (Lathâif) sebagai pusat pengendali jiwa. Gambaran dalam penghasilan ilmu ladunni itu seperti pengolahan biji yang telah terpendam dalam tanah yang kemudian tumbuh menjadi pohon lalu berbuah. Ilmu ladunnî adalah kemampuan yang terpendam dalam diri orang itu sendiri. Nafs atau ruh manusia itu sebenarnya sudah mempunyai biji-biji ilmu yang sewaktu-waktu dapat meledak menjadi sebuah ilmu yang hebat dan mengagumkan.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherPascasarjana Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakartaen_US
dc.titleFormulasi Keilmuan Dalam Kisah Nabi Musa AS Dan Nabi Khadhir ASen_US
dc.title.alternativeStudi Komparatif Q.S. Al-Kahfi Ayat: 60-82 Dalam Penafsiran Al-Alusi, Al-Maraghi, Dan Quraish Shihaben_US
dc.typeTesisen_US
Appears in Collections:Tesis S2 Ilmu Al Quran dan Tafsir

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
Aminah (211410441).pdf
  Restricted Access
Tesis-2114104418.63 MBAdobe PDFView/Open Request a copy


Items in IIQJKT-R are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.