Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/279
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.advisorHuzaemah Tahido Yanggo-
dc.contributor.advisorAhmad Munif Suratmaputra-
dc.contributor.authorRahmi Maulidiyah, 211610118-
dc.date.accessioned2019-11-21T03:18:35Z-
dc.date.available2019-11-21T03:18:35Z-
dc.date.issued2015-
dc.identifier.urihttp://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/279-
dc.description.abstractDalam Hukum Islam Klasik, istilah wasiat wajibah sebelumnya tidak pernah dikenal namun kemudian diberlakukan di beberapa negara Islam untuk kepentingan para cucu pancar perempuan baik laki-laki atau perempuan yang dalam hukum waris Islam tidak mempunyai hak waris. Sedangkan di Indonesia, wasiat wajibah ditujukan untuk anak angkat sebagaimana dijelaskan dalam pasal 209 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam. Pasal ini terlahir karena didasarkan pada upaya pemberian hak harta kepada anak angkat yang selama ini tidak memperoleh hak warisan dari orang tua angkatnya, sementara anak angkat di Indonesia telah melembaga dalam masyarakat bagaikan anak sendiri. Anak angkat tidak memiliki tempat dalam hukum Islam untuk memperoleh hak warisan, dan dengan pemberlakuan pasal 209 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam (KHI), anak angkat berkemungkinan secara litigasi pengadilan agama memperoleh bagian warisan. Penelitian tentang wasiat wajibah sebelumnya sudah pernah dibahas oleh beberapa mahasiswa dari perguruan tinggi-pergurruan tinggi di Indonesia, tetapi kebanyakan membahas tentang wasiat wajibah untuk ahli waris non muslim, sedang dalam tesis ini fokus penelitian adalah mengenai wasiat wajibah untuk anak angkat. Penelitian ini bersifat deskriptif yang data-datanya diperoleh berdasarkan studi kepustakaan (library research) yang dilakukan dengan penelaahan buku-buku berkenaan dengan masalah yang dibahas. Setiap data yang terkumpul akan diklasifikasi berdasarkan masalah yang dibahas, kemudian data diidentifikasi dan dianalisis secara kualitatif. Kemudian data dibahas dengan pendekatan yuridis normatif dengan cara comparative yaitu membandingkan data yang diperoleh dengan teori-teori dan ketentuan yang ada kemudian dianalisis dan ditafsirkan secara logis dan sistematis. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kedudukan anak angkat tidak merubah status anak tersebut, anak angkat tidak bernasab dan bukan sebagai ahli waris dari orang tua angkatnya, namun ia memperoleh wasiat wajibah dengan ketentuan tidak melebihi 1/3 dari harta peninggalan sebagaimana telah diatur dalam KHI pasal 209 ayat (2). Dan apabila anak angkat telah menerima hibah dari orang tua angkatnya maka penghibahan tersebut hendaknya diperhitungkan sebagai bagian dari wasiat wajibah. KHI mewajibkan berwasiat kepada anak angkat atau orang tua angkat adalah berdasarkan kemaslahatan atau untuk menghindari kemadharatan, meskipun di dalam nash tidak dijelaskan tentang kewajiban berwasiat kepadanya.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherPascasarjana Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakartaen_US
dc.titleWasiat Wajibah Dalam Pandangan Fuqahaen_US
dc.title.alternativeStudi Analisis Pasal 209 Ayat (2) KHI Tentang Wasiat Wajibah Terhadap Anak Angkaten_US
dc.typeTesisen_US
Appears in Collections:Tesis S2 Hukum Ekonomi Syariah

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
Rahmi Maulidiyah (211610118).pdf
  Restricted Access
Tesis-2116101186.41 MBAdobe PDFView/Open Request a copy


Items in IIQJKT-R are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.