<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Fakultas Ushuluddin dan Dakwah</title>
<link href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/106" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/106</id>
<updated>2026-11-07T21:31:20Z</updated>
<dc:date>2026-11-07T21:31:20Z</dc:date>
<entry>
<title>Implikasi Ragam Qiraat Terhadap Ayat Ayat Nikah (Studi Analisis Kitab Tafsir Jami al-Bayan an Tawīl Ay Al-Quran Karya al-Ṭabari W. 310 H/ 923 M)</title>
<link href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4933" rel="alternate"/>
<author>
<name>Indri Eka Rahmawati, 22211964</name>
</author>
<id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4933</id>
<updated>2026-11-06T08:40:42Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Implikasi Ragam Qiraat Terhadap Ayat Ayat Nikah (Studi Analisis Kitab Tafsir Jami al-Bayan an Tawīl Ay Al-Quran Karya al-Ṭabari W. 310 H/ 923 M)
Indri Eka Rahmawati, 22211964
Qirā’āt merupakan salah satu aspek penting dalam kajian Al-Qur’an yang memiliki keterkaitan erat dengan penafsiran. Perbedaan ragam qirā’āt tidak hanya menunjukkan kekayaan bacaan Al-Qur’an, tetapi juga dapat melahirkan variasi makna yang dalam kondisi tertentu berimplikasi terhadap penafsiran, termasuk pada ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum pernikahan.  &#13;
Penelitian ini bertujuan menganalisis ragam qirā’āt pada ayat-ayat nikah dalam Tafsir Jāmi’ al-Bayān ‘An Ta’wīl Āy Al-Qur’ān karya al-Ṭabarī serta mengkaji implikasinya terhadap penafsiran ayat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) me-lalui pendekatan ilmu qirā’āt dan tafsir.  &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Ṭabarī memuat qirā’āt muta-wātirah dan qirā’āt syāżżah pada ayat-ayat yang diteliti. Dari delapan lafaz yang dianalisis, seluruhnya memuat qirā’āt mutawātirah, sedangkan tiga lafaz juga memiliki riwayat qirā’āt syāżżah. Dalam penafsirannya, al-Ṭabarī menjadikan qirā’āt mutawātirah sebagai landasan utama, sedangkan qirā’āt syāżżah digunakan sebagai pendukung untuk menjelaskan aspek kebahasaan dan memperkaya makna ayat. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak semua perbedaan qirā’āt berimplikasi terhadap penetapan hukum. Dari delapan lafaz yang dikaji, hanya qirā’āt pada QS. al-Baqarah [2]: 222 yang mempengaruhi penetapan hukum, sedangkan variasi qirā’āt pada QS. Al-Baqarah [2]: 229 dan 236, QS. An-Nisā’ [4]: 19 dan 25, serta QS. Al-Mujadalah [58]: 2 hanya menghasilkan variasi makna yang bersifat saling melengkapi sehingga memperkaya pemahaman terhadap kandungan ayat.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Konsep Qalbun Salim dalam Al-Quran dan Relevansinya pada Era Digital (Studi Komparatif Tafsir Fatḥ al-Qadir Karya Imam Al-Syaukani (w. 1250 H/1834 M) dan Tafsir al-Munir Karya Wahbah al-Zuḥaili (w. 1436 H/2015 M))</title>
<link href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4932" rel="alternate"/>
<author>
<name>Nirwana, 21211733</name>
</author>
<id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4932</id>
<updated>2026-11-06T08:36:18Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Konsep Qalbun Salim dalam Al-Quran dan Relevansinya pada Era Digital (Studi Komparatif Tafsir Fatḥ al-Qadir Karya Imam Al-Syaukani (w. 1250 H/1834 M) dan Tafsir al-Munir Karya Wahbah al-Zuḥaili (w. 1436 H/2015 M))
Nirwana, 21211733
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya menjaga kebersihan hati di tengah perkembangan era digital yang menghadirkan berbagai tantangan moral dan spiritual. Kemudahan akses informasi dan penggunaan media sosial tidak hanya memberikan manfaat, tetapi juga memunculkan berbagai persoalan seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, pencarian validasi, kecenderungan berlebihan terhadap popularitas dan citra diri, serta tekanan psikologis. Kondisi tersebut mendorong peneliti untuk mengkaji konsep Qalbun Salīm dalam Al-Qur’an karena konsep ini menekankan pentingnya kebersihan dan keselamatan hati sebagai ukuran keberhasilan manusia. Pemilihan judul ini juga didasarkan pada kebutuhan untuk menemukan landasan nilai Al-Qur’an yang dapat menjadi pedoman dalam membentuk sikap, etika, dan pengendalian diri dalam menghadapi kehidupan di era digital. &#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep Qalbun Salīm dalam Al-Qur’an berdasarkan penafsiran Imam Al-Syaukānī dalam Fatḥ al-Qadīr dan Wahbah al-Zuḥailī dalam Tafsīr al-Munīr, serta menganalisis relevansinya dengan kehidupan di era digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Pendekatan yang digunakan adalah tafsir tematik-komparatif (tafsīr maudhū‘ī-muqāran), dengan sumber data primer berupa Fatḥ al-Qadīr dan Tafsīr al-Munīr pada QS. Asy-Syu‘arā’ [26]: 89 dan QS. Aṣ-Ṣāffāt [37]: 84. Analisis dilakukan secara deskriptif-komparatif dengan membandingkan penafsiran kedua mufasir serta mengaitkannya dengan pendekatan tazkiyah al-nafs Imam Al-Ghazālī. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imam Al-Syaukānī dan Wahbah al-Zuḥailī sama-sama memaknai Qalbun Salīm sebagai hati yang bersih dari syirik, keraguan, keyakinan yang rusak, riya, dan berbagai penyakit batin. Al-Syaukānī lebih menonjolkan aspek riwayat, analisis kebahasaan, dan kemurnian akidah, sedangkan Al-Zuḥailī memperluas pembahasannya pada aspek akhlak, perilaku, balāghah, dan pemeliharaan hati. Perbedaan tersebut bersifat saling melengkapi dalam memberikan pemahaman yang utuh mengenai Qalbun Salīm. QS. Asy-Syu‘arā’ [26]: 89 menegaskan kebersihan hati sebagai ukuran keselamatan manusia, sedangkan QS. Aṣ-Ṣāffāt [37]: 84 menampilkan Nabi Ibrahim sebagai teladan hati yang ikhlas, teguh dalam tauhid, dan konsisten dalam tindakan. &#13;
Relevansi konsep Qalbun Salīm pada era digital tampak dalam pembentukan orientasi hidup, etika informasi, dan pengendalian diri. Konsep tersebut dapat menjadi filter batin dalam menghadapi berbagai persoalan digital dengan mendorong sikap kritis, tabayyun, menjaga lisan, tidak mudah terprovokasi, serta menghindari pencarian popularitas dan validasi sebagai ukuran keberhasilan. Pendekatan tazkiyah al-nafs Imam Al-Ghazālī memperkuat penerapannya melalui penyucian niat, muhasabah, murāqabah, dan pengendalian hawa nafsu. Dengan demikian, Qalbun Salīm tidak hanya relevan sebagai konsep teologis mengenai kebersihan hati, tetapi juga sebagai landasan etika batin yang dapat membimbing manusia agar menggunakan media digital secara jujur, kritis, santun, dan bertanggung jawab.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Etika Konsumsi Informasi dalam Al-Qur’an sebagai Respons terhadap Fenomena Brain Rot di Kalangan Generasi Z (Studi Analisis Tafsir Al-Miṣbāḥ)</title>
<link href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4931" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ananda Fadhillah, 22211929</name>
</author>
<id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4931</id>
<updated>2026-11-06T08:31:30Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Etika Konsumsi Informasi dalam Al-Qur’an sebagai Respons terhadap Fenomena Brain Rot di Kalangan Generasi Z (Studi Analisis Tafsir Al-Miṣbāḥ)
Ananda Fadhillah, 22211929
Perkembangan media digital telah mengubah pola konsumsi informasi menjadi cepat, singkat, dan berulang yang berpotensi memunculkan fenomena brain rot di kalangan Generasi Z. Fenomena tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan kognitif, tetapi juga dengan etika dalam menerima, memilih, dan menyikapi informasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep etika konsumsi informasi dalam Al-Qur’an berdasarkan penafsiran M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Miṣbāḥ serta relevansinya sebagai respons terhadap fenomena brain rot.  &#13;
Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana etika konsumsi informasi dalam Al-Qur’an dapat menjadi respons terhadap fenomena brain rot di kalangan Generasi Z. Penelitian terdahulu memiliki persamaan karena sama-sama mengkaji fenomena brain rot pada Generasi Z melalui perspektif Al-Qur’an. Perbedaannya, penelitian terdahulu lebih menekankan nilai spiritual, literasi kritis, dan literasi digital Qur’ani, sedangkan penelitian ini secara khusus membahas etika konsumsi informasi dengan menggunakan Tafsir Al-Miṣbāḥ sebagai sumber utama analisis.  &#13;
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) dan pendekatan tafsir maudhu‘i (tematik). Sumber data primer berupa Al-Qur’an dan Tafsir Al-Miṣbāḥ, sedangkan sumber data sekunder berupa kitab tafsir, buku ilmiah, artikel jurnal, dan penelitian terdahulu. Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan dan dianalisis secara deskriptif-analitis dengan menggunakan konsep etika Ahmad Amin sebagai kerangka analisis.  &#13;
Hasil penelitian menunjukkan empat prinsip etika konsumsi informasi dalam Al-Qur’an, yaitu menghindari informasi yang tidak dipahami, menjauhi informasi yang tidak bermanfaat (laghw), menyeleksi informasi, dan melakukan tabayyun. Keempat prinsip tersebut relevan sebagai respons terhadap brain rot karena mendorong Generasi Z untuk mengonsumsi informasi secara kritis, selektif, dan bertanggung jawab.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Ṭibaq Terhadap Penafsiran Juz 30  Dalam Kitab Ṣafwat Al-Tafasir Karya Muḥammad Ibn alī Ibn Jamīl Al-Ṣabuni W. 2021 M</title>
<link href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4930" rel="alternate"/>
<author>
<name>Jihan Fauziah, 22211970</name>
</author>
<id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4930</id>
<updated>2026-11-06T08:27:49Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Ṭibaq Terhadap Penafsiran Juz 30  Dalam Kitab Ṣafwat Al-Tafasir Karya Muḥammad Ibn alī Ibn Jamīl Al-Ṣabuni W. 2021 M
Jihan Fauziah, 22211970
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk ṭibāq dalam 7 ayat pada lima surah pilihan pada Juz 30, mengkaji penafsiran Muḥammad 'Alī aṣ-Ṣābūnī terhadap ayat-ayat tersebut dalam Ṣafwat al-Tafāsīr, serta menganalisis pengaruh ṭibāq terhadap pembentukan makna ayat. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kebahasaan berdasarkan teori balāgah, khususnya kajian ṭibāq sebagai bagian dari muḥassināt al-ma'nawiyyah, serta menggunakan metode deskriptif-analitis. Sumber data primer penelitian ini adalah Ṣafwat al-Tafāsīr karya Muḥammad 'Alī aṣ-Ṣābūnī, sedangkan data sekunder diperoleh dari kitab-kitab balāgah, kamus bahasa Arab, dan literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada QS. Al-Muṭaffifīn [83]:2–3, QS. Al-A'lā [87]:7, QS. Al-Ghāshiyah [88]:25–26, QS. Al-'Alaq [96]:5, dan QS. Al-Kāfirūn [109]:2 ditemukan dua bentuk ṭibāq, yaitu ṭibāq al-ījāb dan ṭibāq al-salb. Ṭibāq al-ījāb tampak pada pertentangan lafaz yastaufūna–yukhsirūna, al-jahra–mā yakhfā, serta ilaynā–'alaynā, sedangkan ṭibāq al-salb terdapat pada pasangan 'allama–lam ya'lam dan ta'budūna–lā a'budu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan ṭibāq dalam penafsiran aṣ-Ṣābūnī tidak hanya berfungsi sebagai unsur keindahan retoris, tetapi juga memperkuat makna ayat serta menegaskan pesan teologis dan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
