<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Tesis S2 Ilmu Al Quran dan Tafsir</title>
<link href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/16" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/16</id>
<updated>2026-08-05T00:18:39Z</updated>
<dc:date>2026-08-05T00:18:39Z</dc:date>
<entry>
<title>Manusia Perspektif Al-Qur’an: Analisis Pemikiran Syed Naquib Al-Attas (L. 1931)</title>
<link href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4828" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sri Rianti, 224411236</name>
</author>
<id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4828</id>
<updated>2026-07-27T06:33:16Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Manusia Perspektif Al-Qur’an: Analisis Pemikiran Syed Naquib Al-Attas (L. 1931)
Sri Rianti, 224411236
Antropologi modern pada umumnya berangkat dari pandangan hidup sekuler yang menafikan dimensi metafisik dalam memahami hakikat manusia. Cara pandang ini melahirkan pemahaman yang reduksionistik, yakni memandang manusia sebatas makhluk biologis, psikologis, atau sosial, tanpa mengakui realitas ruhani, fitrah ketuhanan, serta tujuan akhir eksistensinya. Reduksi tersebut berdampak serius pada krisis makna, disorientasi nilai, dan munculnya berbagai problem kemanusiaan kontemporer. &#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep manusia perspektif al-Qur’an melalui pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas serta menilai relevansinya sebagai kritik dan koreksi terhadap antropologi modern. Penelitian ini memiliki persamaan dengan kajian-kajian sebelumnya dalam menyoroti kritik terhadap reduksionisme modern dan pentingnya dimensi spiritual dalam memahami manusia. Namun, perbedaannya terletak pada penekanan terhadap integrasi wahyu, akal, dan adab sebagai kerangka epistemologis dan ontologis yang utuh dalam memahami hakikat manusia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui kajian pustaka terhadap karya-karya utama al-Attas serta ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan penciptaan, fitrah, dan tujuan hidup manusia. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut al-Attas, manusia diciptakan dengan tujuan yang jelas, yaitu beribadah kepada Allah dan menjalankan amanah kekhalifahan di bumi, serta telah mengakui keesaan Allah sejak perjanjian primordial. Manusia dianugerahi akal dan jiwa untuk memperoleh pengetahuan yang benar, yang harus dipandu oleh wahyu agar terhindar dari kekeliruan epistemologis. Konsep adab menempati posisi sentral sebagai inti kemanusiaan, karena melalui adab manusia mampu menempatkan Tuhan, diri, ilmu, dan alam semesta secara proporsional. &#13;
Konsep manusia perspektif al-Qur’an menurut al-Attas bersifat integral, seimbang, dan aplikatif, serta relevan sebagai landasan pembinaan individu, pendidikan berbasis ta’dīb, dan pembangunan peradaban Islam yang berkeadilan dan bermakna.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Ukhuwah dalam Al-Qur’an: Studi Komparatif Al-Wala’ wa Al-Bara’ Pemikiran Salih bin Fauzan (L. 1354 H) dan Hatim Al-‘Auni (L. 1385 H)</title>
<link href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4827" rel="alternate"/>
<author>
<name>Abu Nasir, 224411137</name>
</author>
<id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4827</id>
<updated>2026-07-27T05:11:47Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Ukhuwah dalam Al-Qur’an: Studi Komparatif Al-Wala’ wa Al-Bara’ Pemikiran Salih bin Fauzan (L. 1354 H) dan Hatim Al-‘Auni (L. 1385 H)
Abu Nasir, 224411137
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pandangan Sholih bin Fauzan dan Hatim Al-‘Auni terhadap konsep al-walā’ wa al-barā’, sekaligus mengidentifikasi persamaan dan perbedaan keduanya sebagaimana termuat dalam karya al-Walā’ wa al-Barā’ fī al-Islām. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) melalui telaah kritis terhadap literatur primer dan sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua tokoh sama-sama memandang al-walā’ wa al-barā’ sebagai bagian penting dari tauhid dan keimanan. Namun, terdapat perbedaan mendasar dalam implementasinya. Sholih bin Fauzan menafsirkan konsep ini secara tekstual dan eksklusif dengan penekanan pada bara’ yang tegas terhadap non-Muslim demi menjaga kemurnian akidah. Sementara itu, Hatim Al-‘Auni menawarkan pendekatan moderat dan kontekstual dengan menyeimbangkan al-walā’ wa al-barā’ melalui nilai rahmah, toleransi, dan penghormatan terhadap hak-hak kemanusiaan. Persamaannya terletak pada urgensi loyalitas sesama Muslim, sedangkan perbedaannya tampak pada praktik bara’: Fauzan bersifat ketat, sedangkan Al-Auni lebih inklusif.
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Hedonisme Perspektif Al-Qur’an (Analisa Penafsiran Ayat-Ayat Perilaku Menyimpang Manusia dalam Tafsir Al-Munir Wahbah Az-Zuhaili (W. 2015 M))</title>
<link href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4826" rel="alternate"/>
<author>
<name>Alip Eko Prasetiyo, 224411243</name>
</author>
<id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4826</id>
<updated>2026-07-24T10:02:54Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Hedonisme Perspektif Al-Qur’an (Analisa Penafsiran Ayat-Ayat Perilaku Menyimpang Manusia dalam Tafsir Al-Munir Wahbah Az-Zuhaili (W. 2015 M))
Alip Eko Prasetiyo, 224411243
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena hedonisme dalam perspektif sosiologi Al-Qur’an melalui penafsiran ayat-ayat yang berkaitan dengan perilaku menyimpang manusia dalam Tafsir Al-Munīr karya Wahbah az-Zuhaili. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada meningkatnya gejala gaya hidup modern yang cenderung konsumtif, materialistik, dan berorientasi pada kesenangan sesaat, seperti budaya flexing, pencarian validasi sosial, serta kompetisi status yang berdampak pada degradasi moral dan spiritual. Penelitian ini memfokuskan pada enam term kunci dalam Al-Qur’an, yaitu isrāf, tabdzīr, lahwun wa la‘bun, at-takāthur, fakhūr, dan riyā’ sebagai representasi konseptual dari perilaku hedonistik dalam kehidupan manusia.&#13;
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Pendekatan yang digunakan adalah tafsir tematik (maudhu‘ī) dengan menjadikan Tafsir Al-Munīr sebagai sumber primer. Teknik analisis data dilakukan melalui content analysis dengan mengintegrasikan penafsiran teks Al-Qur’an dan realitas sosial masyarakat modern, sehingga menghasilkan pemahaman yang komprehensif antara dimensi teologis dan sosiologis.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hedonisme dalam perspektif Al-Qur’an merupakan bentuk penyimpangan orientasi hidup yang ditandai oleh dominasi kesenangan duniawi dan pengabaian nilai spiritual. Konsep isrāf dan tabdzīr mencerminkan perilaku konsumsi berlebihan dan penyalahgunaan harta, lahwun wa la‘bun menggambarkan kehidupan yang terjebak dalam hiburan dan kelalaian, sedangkan at-takāthur menunjukkan obsesi terhadap akumulasi kekayaan dan status sosial. Adapun fakhūr dan riyā’ merepresentasikan sikap membanggakan diri serta pencarian pengakuan sosial yang memperkuat budaya pamer dalam masyarakat modern. Keenam konsep tersebut tidak hanya bersifat individual, tetapi juga membentuk pola sosial yang melahirkan gaya hidup hedonis secara kolektif.&#13;
Penelitian ini menyimpulkan bahwa Tafsir Al-Munīr memberikan kritik sosial yang relevan terhadap fenomena hedonisme modern serta menawarkan solusi melalui konsep moderasi (i‘tidāl), pengelolaan harta yang berorientasi ibadah (siyasah al-infaq), dan penguatan kesadaran spiritual. Dengan demikian, nilai-nilai Al-Qur’an memiliki relevansi yang kuat sebagai pedoman etika sosial dalam menghadapi arus modernitas, agar manusia mampu menjalani kehidupan secara seimbang antara kepentingan dunia dan orientasi akhirat.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Al-Qur’an dan Produk Keuangan Syari’ah Modern (Study Komparatif Tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an dan Al-Munir)</title>
<link href="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4825" rel="alternate"/>
<author>
<name>Munawir, 224411233</name>
</author>
<id>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4825</id>
<updated>2026-07-24T09:52:44Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Al-Qur’an dan Produk Keuangan Syari’ah Modern (Study Komparatif Tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an dan Al-Munir)
Munawir, 224411233
Riba merupakan salah satu istilah yang erat kaitannya dengan kegiatan perputaran ekonomi. Menjahui peraktek riba merupakan salah satu pondasi dan pilar dalam perekomomian islam. Oleh karena itu, sebagai muslim kamil seharusnya mengetahi hal-hal yang menjadi illah atau ciri-ciri dari riba, agar dalam bermuamalah mereka terhidar dari praktek riba. &#13;
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi keperpustakaan (library research) yang melibatakan kajian terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan langsung dengan ayat riba dan ayat-ayat yang berkaitan dengan ekonomi syari’ah.&#13;
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa, keharaman praktek riba merupakan Qath’i dari Nas Al-Qur’an, karena di dalam riba terdapat unsur dzalim terhadap orang lain karena di dalam praketnya terdapat pengambilah harta yang bukan haknya dalam hakikatnya. Oleh karena itu di era modern ini, seharusnya umat islam lebih memperhatikan ketika bermuamalah dengan menggunakan sistem ekonomi syari’ah, yaitu sebuah perputaran ekonomi yang berdasarkan pada qoidah-qoidah islam, yang mana di dalamnya lebih mengutamakan etika, keadilan, dan kesejahteraan bersama ketika bertransaksi. Dasar qoidah ekonomi syari’ah berdasarkan dari Al-Qur’an dan Sunnah, yang memberikan panduan dalam melakukan transaksi perputaran ekonomi, sehingga dapat memberiakn keadilan secara merata.&#13;
Penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian sebelumnya karena dalam penelitian ini terlebih dahulu mencari illah atau penyebab haramnya praktek riba, kemudian memberikan solusi dengan mengunkan akad-akad yang telah diperbolehkan dalam syri’at islam.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
