<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/2">
<title>Program Pascasarjana</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/2</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4709"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4708"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4707"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4614"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-06T09:10:59Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4709">
<title>Pengaruh Syarat-Syarat ‘Illat Hukum Terhadap Perbedaan Pendapat Jumhur Ulama dan Ibnu Taimiyah dalam Hukum Jual-Beli Emas Secara Tidak Tunai (Analisis Fatwa DSN MUI No. 77/DSN-MUI/V/2010 Tentang Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai)</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4709</link>
<description>Pengaruh Syarat-Syarat ‘Illat Hukum Terhadap Perbedaan Pendapat Jumhur Ulama dan Ibnu Taimiyah dalam Hukum Jual-Beli Emas Secara Tidak Tunai (Analisis Fatwa DSN MUI No. 77/DSN-MUI/V/2010 Tentang Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai)
Ikhwanul Mujahidin, 221420435
Penelitian ini membahas pengaruh syarat ʻIllat hukum terhadap perbedaan pendapat Ibnu Taimiyah dan jumhur ulama dalam hukum jual-beli emas secara tidak tunai, bertujuan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya perubahan hukum dalam jual-beli emas secara tidak tunai karena tiadanya ʻIllat hukum dari emas.&#13;
Terdapat dua pendapat ulama dalam hukum jual-beli emas secara tidak tunai, yang pertama adalah Jumhur Ulama yang menyatakan haram hukumnya jual-beli emas secara tidak tunai dengan adanya dalil yang sharîh yang menyatakan tentang keharamannya dan yang kedua adalah pendapat Ibnu al-Taimiyyah yang menyatakan hukum jual-beli emas secara tidak tunai adalah mubah, dengan hilangnya ʻIllat Hukum dari emas.&#13;
Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan yang bersifat deskriptif analisis dengan menggunaka data primer yang diperoleh dari Himpunan Fatwa DSN-MUI dan data sekunder yang diperoleh melalui pengumpulan literatur-literatur kepustakaan yang berkaitan dengan penelitian ini.&#13;
Penelitian membuktikan bahwa perbedaan pendapat ulama dalam hukum jual-beli emas secara tidak tunai dipengaruhi oleh syarat-syarat ʻIllat Hukum, Jumhur  ulama memandang bahwa tidak memungkinkan terjadinya perubahan hukum dalam jual-beli emas secara tidak tunai dari haram menjadi mubah dengan hilangnya ʻIllat Hukum dari emas karena tidak memenuhi syarat-syarat ʻIllat Hukum adapun Ibnu al-Taimiyyah memandang perubahan tersebut mungkin untuk terjadi.
</description>
<dc:date>2023-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4708">
<title>Konsep Islah Al-Afrad Perspektif Al-Qur’an (Studi Pemikiran Muhammad At-Tahir Ibnu ‘Asyur dalam Mewujudkan Kesejahteraan Sosial)</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4708</link>
<description>Konsep Islah Al-Afrad Perspektif Al-Qur’an (Studi Pemikiran Muhammad At-Tahir Ibnu ‘Asyur dalam Mewujudkan Kesejahteraan Sosial)
Thoyyibatus Sa’idah, 221411091
Tesis ini bertujuan untuk mengkaji upaya mewujudkan kesejahteraan sosial melalui konsep iṣlāḥ al-afrād yan digagas oleh Muhammad Aṭ-Ṭāhir Ibnu ‘Āsyūr (w. 1973 M). Al-Qur’an menuntun manusia untuk terus melakukan perbaikan dalam segala keadaan. Dalam konteks kesejahteraan, perbaikan individu harus menjadi langkah pertama dalam mengatasi kesenjangan sosial. Kajian ini menekankan bahwa memperbaiki individu adalah kunci awal menuju masyarakat yang sejahtera, karena perbaikan skala kecil akan mempermudah penerapan perbaikan pada skala yang lebih besar (tatanan kelompok masyarakat).&#13;
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang berbasisi studi pustaka (library research), dengan data primer kitab Uṣūl an-Niẓām al-Ijtimā’ī fi al-Islām, Tafsīr at-Taḥrīr wa at-Tanwīr, dan Maqāṣid asy-Syarī’ah al-Islāmiyyah li Syaikh al-Islām Muhammad Aṭ-Ṭāhir Ibnu ‘Āsyūr, semuanya merupakan karya Ibnu ‘Āsyūr. Penelitian ini mengaplikasikan teori tematik yang digagas oleh Al-Farmawi (w. 2017 M) dan teori kontekstual yang digagas oleh Abdullah Saeed, serta data sekunder yang relevan. Penulis menggunakan metode analisis-deskriptif dan teknik pengumpulan data dokumentasi.&#13;
hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep iṣlāḥ al-afrād selaras dengan sarana mewujudkan falah dalam kelompok ayat 1-11 QS. Al-Mu’minun. Konsep ini didasarkan pada empat ayat Al-Qur’an, yakni QS. Ar-Ra’d ayat 11, QS. Al-Hasyr ayat 18, QS. Al-‘Ankabut ayat 69, dan QS. Al-A’raf ayat 142. Konsep ini mempunyai memiliki tiga prinsip; iṣlāḥ al-i’tiqad (perbaikan keyakinan atau akidah), iṣlāḥ at-tafkir (perbaikan pola pikir), dan iṣlāḥ al-‘amal (berbuat baik dalam segala keadaan yang didasarkan pada keimanan, takwa, dan persetujuan naluriah hati). Tiga prinsip ini melahirkan individu yang berpredikat muslih. Dalam realitas sosial kontemporer, konsep ini dapat dijadikan panduan strategis dan filter yang dapat membantu menciptakan masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan damai, serta melahirkan pribadi yang dapat menjadi agen perubahan positif di masyarakat global. Sementara internalisasi dan implementasi konsep iṣlāḥ al-afrād cenderung lebih efektif jika dilakukan melalui pendekatan yang penuh kemudahan dan kasih sayang, yakni bi at-taisir wa ar-rahmah.
</description>
<dc:date>2024-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4707">
<title>Unifikasi Zakat dan Pajak di Indonesia: Studi Analisis Ayat Zakat dengan Metode Tafsir Maqasidi Wasfi ‘Asyur (1.1975 M)</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4707</link>
<description>Unifikasi Zakat dan Pajak di Indonesia: Studi Analisis Ayat Zakat dengan Metode Tafsir Maqasidi Wasfi ‘Asyur (1.1975 M)
Agus Muslim, 222411096
Zakat dan pajak, meskipun merupakan dua hal yang jelas berbeda, namun mempunyai beberapa kesamaan dalam beberapa konteks seperti adanya kewajiban untuk menyerahkan sebagian harta, adanya aturan atau undang-undang yang mendasari kewajibannya, dan keduanya sama-sama dikembalikan kepada masyarakat. Beberapa persamaan tersebut, ditambah dengan beberapa isu lainnya seperti realisasi pemungutan zakat yang jauh dari potensinya, dan adanya beban ganda bagi wajib pajak yang juga merupakan wajib zakat menjadi beberapa hal yang menyebabkan munculnya wacana penyatuan pajak dan zakat. Selain pembahasan tentang hukum dan aspek-aspek lainnya, pemaknaan ayat-ayat zakat harus dilakukan dengan pembacaan secara teliti penafsiran-penafsiran para ulama terhadap ayat-ayat tersebut dan melihat kembali apa sebenarnya yang menjadi maqasid ayat-ayat zakat untuk menganalisis wacana unifikasi zakat dan pajak.&#13;
Penelitian ini menitikberatkan pembahasan pada bagaimana analisis ayat-ayat zakat dengan metode Tafsir Maqasidi Wasfi ‘Asyur dan bagaimana analisis unifikasi zakat dan pajak  dengan dengan maqasid ayat-ayat zakat. Masalah pertama dibahas dengan identifikasi ayat-ayat zakat dan meneliti penafsiran para mufasir terhadap ayat-ayat zakat dan merumuskan maqasid ayat-ayat zakat dengan metode Tafsir Maqasidi Wasfi ‘Asyur. Pembahasan masalah kedua dilakukan dengan menganaisis unifikasi zakat dan pajak dengan maqasid ayat-ayat zakat yang telah dianalisis pada oembahasan sebelumnya untuk melihat kesesuaian unifikasi zakat dan pajak dengan maqasid ayat-ayat zakat.&#13;
Tesis ini membuktikan bahwa zakat hadir dalam dimensi yang luas dalam berbagai ayat Al-Qur’an sebagai salah satu pokok kewajiban agama yang bertujuan untuk mencapai kemaslahatan umat. Berdasarkan penelitian ini, unifikasi zakat dan pajak dibutuhkan untuk mencapai maqasid yang terkandung dalam ayat-ayat zakat.
</description>
<dc:date>2024-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4614">
<title>Taujih Al-Qira’at dalam Tafsir Marah Labid Karya Syekh Nawawi Al Bantani (1230 H/ 1813 M – 1314 H/1897 M</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4614</link>
<description>Taujih Al-Qira’at dalam Tafsir Marah Labid Karya Syekh Nawawi Al Bantani (1230 H/ 1813 M – 1314 H/1897 M
Istiqomah, 319440062
Tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi al-Bantani memiliki posisi yang sangat penting di kalangan masyarakat Muslim di Indonesia, baik sebagai bahan kajian Islam tradisional maupun kajian virtual, serta menjadi objek penelitian bagi para akademisi Islam. Meskipun qira'at sebagai salah satu referensi dalam tafsir ini telah menjadi perhatian beberapa peneliti, kajian-kajiannya belum mencapai pembahasan mendalam terkait kerangka konseptual dan metodologis yang mendasarinya.&#13;
Disertasi ini mendukung pendapat Sukhairu (2013), Natasya (2017), Winardi (2020), dan Ikmal Zaidi tentang eksistensi qira’at mutawatirah dan qira’at syazzah dalam tafsir Marah Labid, tetapi menolak asumsi bahwa qira’at mutawatirah di dalamnya terdiri atas qira’at sab‘ah dan qira’at ‘asyrah saja. Karena, selain keduanya, juga terdapat qira’at samaniyah. Demikian juga dari segi objek kajiannya, Syekh Nawawi tidak hanya fokus pada farsy al-huruf, melainkan juga menyinggung sembilan qa‘idah usuliyah. &#13;
Penelitian ini mengembangkan konsep taujih al-qira’at at-Tayyar (1413 H/1993 M), yaitu memperluas ruang lingkupnya dari tiga aspek (linguistik, interpretasi, dan performansi), menjadi lima aspek dengan menambahkan aspek ortografi dan historis. &#13;
Untuk memperoleh gambaran utuh tentang konsep taujih al-qira’at Syekh Nawawi, data dikumpulkan dengan metode dokumentasi dari sumber primer berupa tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi al-Bantani. Pembacaan data dilakukan dengan metode analisis wacana pendekatan sejarah yang diadaptasi dari Ruth Wodak, dengan pendekatan ilmu qira’at, linguistik dan ilmu-ilmu Al-Qur’an.&#13;
Hasil penelitian ini menunjukkan taujih al-qira’at dalam tafsir Marah Labid menghidupkan kajian qira’at samaniyah yang digagas Tahir ibn Galbun (w. 399 H/1008 M). Kajian qira’at mutawatirah-nya juga terkonfirmasi dalam qira’at as-Sab‘ah versi Ibn Mujahid (w. 324 H/935 M), ad-Dani (w. 444 H/1052 M), dan asy-Syatibi (w. 590 H/1194 M), serta qira’at ‘asyrah versi Ibn al-Jazari (w. 833 H/1429 M). Taujih al-qira’at-nya disajikan dengan metode deskriptif-argumentatif (wasfi-ta‘lili) dalam bentuk taujih nahwi, sarfi, balagi, lahji, rasmi, tafsiri, fiqhi, isnadi, nuzuli, tarikhi, dan waqfi.
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
