<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/6">
<title>1. S-3 Ilmu Al Quran dan Tafsir</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/6</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4846"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4845"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4844"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4839"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-10-14T04:23:56Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4846">
<title>Standarisasi Pendidikan Prespektif Tafsir (Telaah Komparatif-Kontekstual Tafsir Al-Munir dan Tafsir Al-Mishbah)</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4846</link>
<description>Standarisasi Pendidikan Prespektif Tafsir (Telaah Komparatif-Kontekstual Tafsir Al-Munir dan Tafsir Al-Mishbah)
Hulailah Istiqlaliyah, 318440046
Standarisasi pendidikan diperlukan untuk mengevaluasi sistem pendidikan, dapat meningkatkan kualitas dan daya saing, serta mampu beradaptasi dengan kemajuan global. Standar dan standardisasi secara tekstual tidak terdapat dalam Al-Qur’an, sehingga diperlukan adanya kontektualisasi pada teks Al-Qur’an yang bisa bermakna standar atau standardisasi. Pemaknaan teks Al-Qur’an yang berkaitan dengan standar atau standardisasi menjadi penting, sebagai legitimasi keagamaan atas hal yang penting bagi kehidupan manusia.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna dan maksud dari lafal-lafal al-wazn, al-‘adl, al-qiṣt, dan al-qisṭās sesuai dengan konteks kekinian, yakni kontekstualisasinya dengan konsepsi standar dan standarisasi pendidikan perspektif Tafsīr al-Munīr dan Tafsīr al-Misbah. Disertasi ini lebih menekankan kepada pemaknaan ayat dan mengaitkannya dengan masalah standar dan standardisasi. Studi ini berjenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analitis. Berdasarkan sumber datanya, tulisan termasuk dalam studi pustaka. Sumber primer Tafsīr al-Munīr karya Wahbah al-Zuḥaili dan Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab, sedangkan sumber data sekundernya mencakup artikel, buku, hasil penelitian yang berhubungan dengan objek penelitian ini. Data-data diambil dari sumber-sumber kepustakaan dari Al-Qur’an, kitab-kitab tafsir, buku-buku, dan jurnal-jurnal yang relevan. Data-data tersebut dianalisis dengan pendekatan mahfūm, ‘urf al-mukhātib, dan teori tafsir kontekstual Abdullah Saeed. Kontekstualisasi standar dan standarisasi pendidikan perspektif Tafsīr al-Munīr dan Tafsir al-Misbah berlandaskan pada dua fondasi utama, yaitu keseimbangan dan keadilan.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dalam perspektif kedua tafsir itu menyeimbangkan kemampuan intelektual, spiritual, dan sosial. Ada empat aspek utama dalam SKL perspektif kedua tafsir tersebut, yaitu 1) pengembangan intelektual dan spiritual, termasuk berpikir kritis; 2) integritas moral; 3) memiliki kompetensi dan tanggung jawab sosial.
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4845">
<title>Tarjih dan Implikasinya Terhadap Penafsiran Al-Qur’an (Analisis Metodologis Tafsir Adwa’ al-Bayan Karya al-Syinqiti w. 1393 H)</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4845</link>
<description>Tarjih dan Implikasinya Terhadap Penafsiran Al-Qur’an (Analisis Metodologis Tafsir Adwa’ al-Bayan Karya al-Syinqiti w. 1393 H)
Abu Bakri, 322440101
Penelitian ini mengkaji metode tarjīḥ dalam Tafsīr Aḍhwā’ al-Bayān fī Īḍāḥ al-Qur’ān bi al-Qur’ān karya Muḥammad al-Amīn al-Syinqīṭī serta implikasinya terhadap penafsiran Al-Qur’an. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realitas ikhtilāf al-tafsīr yang merupakan keniscayaan dalam tradisi tafsir, tetapi berpotensi melahirkan relativisme makna apabila tidak disertai mekanisme evaluatif yang jelas. Dalam konteks tersebut, tarjīḥ tidak dipahami sebagai preferensi subjektif mufassir, tetapi sebagai instrumen ilmiah untuk menilai, menyeleksi, dan menetapkan makna yang lebih kuat berdasarkan dalil, kaidah bahasa, struktur istidlāl, dan hirarki sumber penafsiran.&#13;
Penelitian ini memiliki persamaan dengan sejumlah kajian terdahulu yang membahas manhaj asy-Syinqīṭī, metode penafsiran ayat-ayat hukum, serta konsep tarjīḥ dalam studi Al-Qur’an. Persamaannya terletak pada perhatian terhadap kekuatan metodologis Aḍhwā’ al-Bayān, khususnya dalam penggunaan tafsīr al-Qur’ān bi al-Qur’ān, dalil Sunnah, dan perangkat uṣūl al-fiqh. Namun, penelitian ini berbeda dari kajian-kajian sebelumnya karena tidak hanya mendeskripsikan manhaj umum al-Syinqīṭī atau penerapan kaidah uṣūl al-fiqh dalam ayat-ayat hukum, tetapi secara khusus merekonstruksi metode tarjīḥ ikhtilāf al-tafsīr dalam Aḍhwā’ al-Bayān serta menganalisis implikasinya terhadap proses penetapan makna, struktur tafsir, dan pengembangan metodologi tafsir.&#13;
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan menjadikan Aḍhwā’ al-Bayān sebagai sumber primer. Pendekatan utama yang digunakan adalah uṣūl al-tafsīr, sedangkan uṣūl al-fiqh digunakan sebagai pendekatan pendukung, terutama dalam membaca struktur istidlāl, relasi dalil, dan mekanisme ta‘āruḍ wa al-tarjīḥ. Teknik analisis yang digunakan adalah content analysis melalui pembacaan tekstual terhadap ayat-ayat yang memuat ikhtilāf al-tafsīr, penelusuran redaksi tarjīḥ, pemetaan dalil, klasifikasi bentuk perbedaan, dan penarikan pola metodologis secara induktif-deduktif.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode tarjīḥ al-Syinqīṭī dibangun di atas hirarki dalil yang menempatkan Al-Qur’an sebagai rujukan primer, Sunnah sebagai bayān yang mengikat, atsar sahabat, kaidah bahasa Arab, dan perangkat uṣūl al-fiqh sebagai instrumen pendukung. Dalam menyikapi ikhtilāf, al-Syinqīṭī tidak menggunakan satu pola yang kaku, tetapi menerapkan tarjīḥ secara dinamis melalui pemetaan pendapat, pengujian dalil, penghimpunan makna pada ikhtilāf al-tanawwu‘, dan penetapan pendapat yang lebih kuat pada ikhtilāf al-taḍādd. Penelitian ini merekonstruksi tiga kaidah utama: pertama, tarjīḥ mengikuti kekuatan bayān Al-Qur’an, bukan sekadar keberadaan ayat yang sejenis; kedua, klasifikasi ikhtilāf didahulukan sebelum tarjīḥ; ketiga, redaksi tarjīḥ menunjukkan tingkatan validitas makna. Implikasi metode ini tampak pada penguatan epistemologi tafsir, sistematisasi evaluasi ikhtilāf, pembentukan pola pembacaan yang relasional dan integratif, penataan struktur tafsir yang argumentatif, serta kontribusi terhadap pengembangan ilmu tafsir kontemporer.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4844">
<title>Konstruksi Ketenangan Jiwa dalam Tafsir Isyari Al-Qusyairi</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4844</link>
<description>Konstruksi Ketenangan Jiwa dalam Tafsir Isyari Al-Qusyairi
Muhammad Harun, 323440135
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penafsiran Abū al-Qāsim al-Qusyairī terhadap konsep taṭma'innu al-qulūb dalam Tafsīr Laṭā'if al-Isyārāt, mengonstruksi model pendidikan ketenangan jiwa berdasarkan tafsir isyārī, serta merumuskan implementasinya dalam konteks pendidikan Islam kontemporer. &#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber primer penelitian ini adalah Tafsīr Laṭā'if al-Isyārāt karya al-Qusyairī, sedangkan sumber sekunder berupa kitab tafsir, literatur tasawuf, pendidikan Islam, dan psikologi spiritual. Analisis data dilakukan melalui metode deskriptif-analitis dan interpretatif dengan pendekatan tafsir tematik (mawḍū‘ī).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Qusyairī memandang ketenangan jiwa sebagai proses transformasi spiritual yang berlangsung secara bertahap melalui tahapan takhallī (penyucian diri dari sifat tercela), taḥallī (penghiasan diri dengan sifat-sifat terpuji), dan tajallī (manifestasi cahaya Ilahi) hingga mencapai derajat nafs al-muṭma'innah. Proses tersebut dibangun melalui harmonisasi qalb, nafs, dan rūḥ yang diperkuat oleh zikir, tazkiyah al-nafs, mujahadah, ma'rifah, tawakal, riḍā, dan maḥabbah. Penafsiran al-Qusyairī terhadap QS. al-Ra'd [13]:28, QS. al-Fatḥ [48]:4, dan QS. al-Fajr [89]:27–30 menunjukkan bahwa ketenangan jiwa merupakan keadaan spiritual yang ditandai oleh hadirnya sakīnah, kestabilan batin, kedekatan dengan Allah Swt., serta tercapainya maqām rāḍiyah wa marḍiyyah.&#13;
Temuan utama sekaligus novelty penelitian ini adalah lahirnya Model Konstruksi Pendidikan Ketenangan Jiwa berbasis Tafsīr Isyārī al-Qusyairī yang mengintegrasikan empat komponen utama, yaitu (1) landasan konseptual ketenangan jiwa Qur'ani, (2) tahapan pendidikan ruhani melalui proses takhallī–taḥallī–tajallī, (3) penguatan nilai-nilai spiritual Qur'ani melalui harmonisasi dimensi qalb, nafs, rūḥ, dan (4) pembentukan karakter nafs al-muṭma'innah sebagai tujuan pendidikan Islam. Model konstruksi tersebut kemudian diimplementasikan dalam pendidikan Islam kontemporer melalui proses internalisasi nilai, pembiasaan ibadah dan zikir, pembinaan karakter dan pengendalian diri, pendampingan spiritual, serta penguatan resiliensi psikospiritual sebagai strategi membangun kesehatan mental, karakter Islami, dan kemampuan adaptif peserta didik, khususnya Generasi Z di era digital.&#13;
Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis berupa pengembangan teori pendidikan ketenangan jiwa berbasis tafsir isyārī serta kontribusi praktis berupa model implementatif yang dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan kurikulum, pembelajaran, pembinaan karakter, dan penguatan kesehatan mental di lembaga pendidikan Islam kontemporer.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4839">
<title>Nirkekerasan Terhadap Perempuan (Studi Analisis Ayat-Ayat Kesetaraan dan Perlindungan Perspektif Tafsir Maqasidi)</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4839</link>
<description>Nirkekerasan Terhadap Perempuan (Studi Analisis Ayat-Ayat Kesetaraan dan Perlindungan Perspektif Tafsir Maqasidi)
Iffaty Zamimah, 317440028
Kekerasan kepada perempuan merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan isu global dengan dampak besar pada korban, keluarga, dan masyarakat. Kekerasan berbasis gender bertentangan dengan falsafah hidup bangsa, setiap warga negara berhak sepenuhnya mendapatkan perlindungan sebagaimana tertera dalam UUD 1945 beserta aturan turunannya. Kekerasan berbasis gender terjadi tanpa memandang usia, kelas, ras, dan suku. Secara global, diperkirakan 30 persen wanita di atas lima belas tahun sudah pernah mendapatkan kekerasan. &#13;
Penelitian ini termasuk ke dalam kategori kajian kepustakaan (library research) yang mengeksplor penafsiran tiga tafsir yang dikategorikan memiliki pendekatan maqāṣidī tentang ayat-ayat kesetaraan dan perlindungan perempuan. Penelitian ini bersifat deskriptif dan selanjutnya dianalisis dengan pendekat tafsir maqāṣidī Waṣfī ‘Āsyūr Abū Zayd . Penulis juga membaca hasil penafsiran ulama dengan pendekatan teori sosial.&#13;
Hasil penelitian ini menunjukkan : pertama, maqāṣid ’āmmah kesetaraan dalam upaya perlindungan perempuan menekankan kesetaraan laki-laki dan perempuan adalah mutlak. Keduanya memiliki kemuliaan dan memiliki mandat yang sama sebagai hamba dan khalifah serta wajib berinteraksi dengan prinsip kesalingan dan kebaikan. Perlindungan perempuan baik fisik, psikis maupun ekonomi adalah menjadi hak bagi perempuan. Adapun al-maqāṣid al-khāṣṣah dari bentuk-bentuk kekerasan yaitu fisik tergambar pada larangan untuk menyakiti perempuan atas fisiknya, baik berupa pukulan, trafficking hingga pembunuhan. Pada kekerasan psikis menyoroti praktik poligami, qadzaf dan bullying, Perlindungan kekerasan ekonomi menekankan hak yang dapat diperoleh baik dari mahar hingga hak ketika dicerai. Semua kekerasan ini memiliki dampak yang luas sehingga sangat perlu dicegah.&#13;
Kedua, Reinterpretasi tafsir maqāṣidī memungkinkan penerapan prinsip-prinsip syariah secara relevan dengan kondisi dan tantangan zaman modern. kekerasan dapat dimaknai dari hal yang paling halus, karena kekerasan kadang terjadi tanpa disadari. Semua ayat-ayat yang menjadi kajian menunjukkan perlindungan, hal ini selaras dengan tujuan syariat yang memiliki tujuan menjaga jiwa, agama, akal, nasab dan harta. Semua perlindungan tersebut sangat dinamis dalam bentuknya aplikasinya sesuai dengan illat dan kondisi Sehingga pencegahan maupun penanganannya sangat dapat berkembang.
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
