<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/7">
<title>3. S-2 Ilmu Al Quran dan Tafsir</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/7</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4841"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4840"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4828"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4827"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-10-13T21:57:04Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4841">
<title>Air Dalam Tafsir Al-Azhar: Kajian Ayat Siklus Air dengan Pendekatan Hidrologi</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4841</link>
<description>Air Dalam Tafsir Al-Azhar: Kajian Ayat Siklus Air dengan Pendekatan Hidrologi
Iffaty Zamimah, Hilma Nurlaila Azhari2
Bencana alam yang berhubungan dengan air yang kerap terjadi di Indonesia, seperti banjir dan kekeringan. Para ahli menyebutkan salah satu faktor utamanya adalah gangguan pada siklus air. Untuk meminimalisir bencana-bencana itu terjadi, diharuskan untuk lebih memperkenalkan siklus air kepada khalayak umum agar bisa lebih dimengerti bahwasanya siklus air sangat dipengaruhi oleh kegiatan manusia. Siklus hidrologi adalah sirkulasi air tanpa henti dari atmosfer ke bumi dan kembali lagi ke bumi melalui proses kondensi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan lebih dalam mengenai ayat siklus air dalam tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dengan pendekatan hidrologi  menggunakan teori Chay Asdak mengenai siklus air. Siklus air dalam tafsir Al-Azhar terbagi menjadi tiga tahap: pertama, tahap menguapnya air dari lautan ke atmosfer yang banyak dipengaruhi oleh cahaya matahari dan energi angin; kedua, tahap air turun dari atmosfer ke bumi yang mencakup proses pengembunan, berpindahnya awan dari satu tempat ke tempat lainnya dan presipitasi (hujan); ketiga, tahap aliran air di bumi yang mencakup proses infiltrasi, limpasan dan aliran permukaan. Buya Hamka menegaskan jikalau proses meresapnya air ke dalam tanah sangat bergantung dengan adanya tumbuh-tumbuhan di permukaan tanah yang berfungsi sebagai penahan air, agar tidak menjadi banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau. Selain itu, tanaman juga mempercepat laju proses pengisian ulang air tanah yang penggunaannya banyak dimanfaatkan di Indonesia.
</description>
<dc:date>2022-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4840">
<title>Epistemologi Tafsir dan Metode Penafsiran Al-Qur’an</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4840</link>
<description>Epistemologi Tafsir dan Metode Penafsiran Al-Qur’an
Ade Naelul Huda; Muhammad Azizan Fitriana
</description>
<dc:date>2026-05-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4828">
<title>Manusia Perspektif Al-Qur’an: Analisis Pemikiran Syed Naquib Al-Attas (L. 1931)</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4828</link>
<description>Manusia Perspektif Al-Qur’an: Analisis Pemikiran Syed Naquib Al-Attas (L. 1931)
Sri Rianti, 224411236
Antropologi modern pada umumnya berangkat dari pandangan hidup sekuler yang menafikan dimensi metafisik dalam memahami hakikat manusia. Cara pandang ini melahirkan pemahaman yang reduksionistik, yakni memandang manusia sebatas makhluk biologis, psikologis, atau sosial, tanpa mengakui realitas ruhani, fitrah ketuhanan, serta tujuan akhir eksistensinya. Reduksi tersebut berdampak serius pada krisis makna, disorientasi nilai, dan munculnya berbagai problem kemanusiaan kontemporer. &#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep manusia perspektif al-Qur’an melalui pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas serta menilai relevansinya sebagai kritik dan koreksi terhadap antropologi modern. Penelitian ini memiliki persamaan dengan kajian-kajian sebelumnya dalam menyoroti kritik terhadap reduksionisme modern dan pentingnya dimensi spiritual dalam memahami manusia. Namun, perbedaannya terletak pada penekanan terhadap integrasi wahyu, akal, dan adab sebagai kerangka epistemologis dan ontologis yang utuh dalam memahami hakikat manusia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui kajian pustaka terhadap karya-karya utama al-Attas serta ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan penciptaan, fitrah, dan tujuan hidup manusia. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut al-Attas, manusia diciptakan dengan tujuan yang jelas, yaitu beribadah kepada Allah dan menjalankan amanah kekhalifahan di bumi, serta telah mengakui keesaan Allah sejak perjanjian primordial. Manusia dianugerahi akal dan jiwa untuk memperoleh pengetahuan yang benar, yang harus dipandu oleh wahyu agar terhindar dari kekeliruan epistemologis. Konsep adab menempati posisi sentral sebagai inti kemanusiaan, karena melalui adab manusia mampu menempatkan Tuhan, diri, ilmu, dan alam semesta secara proporsional. &#13;
Konsep manusia perspektif al-Qur’an menurut al-Attas bersifat integral, seimbang, dan aplikatif, serta relevan sebagai landasan pembinaan individu, pendidikan berbasis ta’dīb, dan pembangunan peradaban Islam yang berkeadilan dan bermakna.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4827">
<title>Ukhuwah dalam Al-Qur’an: Studi Komparatif Al-Wala’ wa Al-Bara’ Pemikiran Salih bin Fauzan (L. 1354 H) dan Hatim Al-‘Auni (L. 1385 H)</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4827</link>
<description>Ukhuwah dalam Al-Qur’an: Studi Komparatif Al-Wala’ wa Al-Bara’ Pemikiran Salih bin Fauzan (L. 1354 H) dan Hatim Al-‘Auni (L. 1385 H)
Abu Nasir, 224411137
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pandangan Sholih bin Fauzan dan Hatim Al-‘Auni terhadap konsep al-walā’ wa al-barā’, sekaligus mengidentifikasi persamaan dan perbedaan keduanya sebagaimana termuat dalam karya al-Walā’ wa al-Barā’ fī al-Islām. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) melalui telaah kritis terhadap literatur primer dan sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua tokoh sama-sama memandang al-walā’ wa al-barā’ sebagai bagian penting dari tauhid dan keimanan. Namun, terdapat perbedaan mendasar dalam implementasinya. Sholih bin Fauzan menafsirkan konsep ini secara tekstual dan eksklusif dengan penekanan pada bara’ yang tegas terhadap non-Muslim demi menjaga kemurnian akidah. Sementara itu, Hatim Al-‘Auni menawarkan pendekatan moderat dan kontekstual dengan menyeimbangkan al-walā’ wa al-barā’ melalui nilai rahmah, toleransi, dan penghormatan terhadap hak-hak kemanusiaan. Persamaannya terletak pada urgensi loyalitas sesama Muslim, sedangkan perbedaannya tampak pada praktik bara’: Fauzan bersifat ketat, sedangkan Al-Auni lebih inklusif.
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
