<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Disertasi S3 Ilmu Al Quran dan Tafsir</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/78</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 13 Oct 2026 16:17:34 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-10-13T16:17:34Z</dc:date>
<item>
<title>Konstruksi Ketenangan Jiwa dalam Tafsir Isyari Al-Qusyairi</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4844</link>
<description>Konstruksi Ketenangan Jiwa dalam Tafsir Isyari Al-Qusyairi
Muhammad Harun, 323440135
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penafsiran Abū al-Qāsim al-Qusyairī terhadap konsep taṭma'innu al-qulūb dalam Tafsīr Laṭā'if al-Isyārāt, mengonstruksi model pendidikan ketenangan jiwa berdasarkan tafsir isyārī, serta merumuskan implementasinya dalam konteks pendidikan Islam kontemporer. &#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber primer penelitian ini adalah Tafsīr Laṭā'if al-Isyārāt karya al-Qusyairī, sedangkan sumber sekunder berupa kitab tafsir, literatur tasawuf, pendidikan Islam, dan psikologi spiritual. Analisis data dilakukan melalui metode deskriptif-analitis dan interpretatif dengan pendekatan tafsir tematik (mawḍū‘ī).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Qusyairī memandang ketenangan jiwa sebagai proses transformasi spiritual yang berlangsung secara bertahap melalui tahapan takhallī (penyucian diri dari sifat tercela), taḥallī (penghiasan diri dengan sifat-sifat terpuji), dan tajallī (manifestasi cahaya Ilahi) hingga mencapai derajat nafs al-muṭma'innah. Proses tersebut dibangun melalui harmonisasi qalb, nafs, dan rūḥ yang diperkuat oleh zikir, tazkiyah al-nafs, mujahadah, ma'rifah, tawakal, riḍā, dan maḥabbah. Penafsiran al-Qusyairī terhadap QS. al-Ra'd [13]:28, QS. al-Fatḥ [48]:4, dan QS. al-Fajr [89]:27–30 menunjukkan bahwa ketenangan jiwa merupakan keadaan spiritual yang ditandai oleh hadirnya sakīnah, kestabilan batin, kedekatan dengan Allah Swt., serta tercapainya maqām rāḍiyah wa marḍiyyah.&#13;
Temuan utama sekaligus novelty penelitian ini adalah lahirnya Model Konstruksi Pendidikan Ketenangan Jiwa berbasis Tafsīr Isyārī al-Qusyairī yang mengintegrasikan empat komponen utama, yaitu (1) landasan konseptual ketenangan jiwa Qur'ani, (2) tahapan pendidikan ruhani melalui proses takhallī–taḥallī–tajallī, (3) penguatan nilai-nilai spiritual Qur'ani melalui harmonisasi dimensi qalb, nafs, rūḥ, dan (4) pembentukan karakter nafs al-muṭma'innah sebagai tujuan pendidikan Islam. Model konstruksi tersebut kemudian diimplementasikan dalam pendidikan Islam kontemporer melalui proses internalisasi nilai, pembiasaan ibadah dan zikir, pembinaan karakter dan pengendalian diri, pendampingan spiritual, serta penguatan resiliensi psikospiritual sebagai strategi membangun kesehatan mental, karakter Islami, dan kemampuan adaptif peserta didik, khususnya Generasi Z di era digital.&#13;
Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis berupa pengembangan teori pendidikan ketenangan jiwa berbasis tafsir isyārī serta kontribusi praktis berupa model implementatif yang dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan kurikulum, pembelajaran, pembinaan karakter, dan penguatan kesehatan mental di lembaga pendidikan Islam kontemporer.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4844</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Nirkekerasan Terhadap Perempuan (Studi Analisis Ayat-Ayat Kesetaraan dan Perlindungan Perspektif Tafsir Maqasidi)</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4839</link>
<description>Nirkekerasan Terhadap Perempuan (Studi Analisis Ayat-Ayat Kesetaraan dan Perlindungan Perspektif Tafsir Maqasidi)
Iffaty Zamimah, 317440028
Kekerasan kepada perempuan merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan isu global dengan dampak besar pada korban, keluarga, dan masyarakat. Kekerasan berbasis gender bertentangan dengan falsafah hidup bangsa, setiap warga negara berhak sepenuhnya mendapatkan perlindungan sebagaimana tertera dalam UUD 1945 beserta aturan turunannya. Kekerasan berbasis gender terjadi tanpa memandang usia, kelas, ras, dan suku. Secara global, diperkirakan 30 persen wanita di atas lima belas tahun sudah pernah mendapatkan kekerasan. &#13;
Penelitian ini termasuk ke dalam kategori kajian kepustakaan (library research) yang mengeksplor penafsiran tiga tafsir yang dikategorikan memiliki pendekatan maqāṣidī tentang ayat-ayat kesetaraan dan perlindungan perempuan. Penelitian ini bersifat deskriptif dan selanjutnya dianalisis dengan pendekat tafsir maqāṣidī Waṣfī ‘Āsyūr Abū Zayd . Penulis juga membaca hasil penafsiran ulama dengan pendekatan teori sosial.&#13;
Hasil penelitian ini menunjukkan : pertama, maqāṣid ’āmmah kesetaraan dalam upaya perlindungan perempuan menekankan kesetaraan laki-laki dan perempuan adalah mutlak. Keduanya memiliki kemuliaan dan memiliki mandat yang sama sebagai hamba dan khalifah serta wajib berinteraksi dengan prinsip kesalingan dan kebaikan. Perlindungan perempuan baik fisik, psikis maupun ekonomi adalah menjadi hak bagi perempuan. Adapun al-maqāṣid al-khāṣṣah dari bentuk-bentuk kekerasan yaitu fisik tergambar pada larangan untuk menyakiti perempuan atas fisiknya, baik berupa pukulan, trafficking hingga pembunuhan. Pada kekerasan psikis menyoroti praktik poligami, qadzaf dan bullying, Perlindungan kekerasan ekonomi menekankan hak yang dapat diperoleh baik dari mahar hingga hak ketika dicerai. Semua kekerasan ini memiliki dampak yang luas sehingga sangat perlu dicegah.&#13;
Kedua, Reinterpretasi tafsir maqāṣidī memungkinkan penerapan prinsip-prinsip syariah secara relevan dengan kondisi dan tantangan zaman modern. kekerasan dapat dimaknai dari hal yang paling halus, karena kekerasan kadang terjadi tanpa disadari. Semua ayat-ayat yang menjadi kajian menunjukkan perlindungan, hal ini selaras dengan tujuan syariat yang memiliki tujuan menjaga jiwa, agama, akal, nasab dan harta. Semua perlindungan tersebut sangat dinamis dalam bentuknya aplikasinya sesuai dengan illat dan kondisi Sehingga pencegahan maupun penanganannya sangat dapat berkembang.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4839</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Konsep Ketahanan Keluarga dalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Ayat Kisah Keluarga Nabi Perspektif Sosiologi Profetik)</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4820</link>
<description>Konsep Ketahanan Keluarga dalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Ayat Kisah Keluarga Nabi Perspektif Sosiologi Profetik)
Siti Mukhliso, 316440020
Kerapuhan struktur keluarga di tengah arus perubahan sosial global menjadi tantangan serius bagi ketahanan institusi keluarga. Dalam konteks ini, Al-Qur'an sebagai sumber ajaran utama Islam menyimpan narasi-narasi keluarga Nabi yang sarat makna dan nilai yang relevan untuk ditelaah secara akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep ketahanan keluarga dalam Al-Qur'an melalui analisis tematik terhadap kisah-kisah keluarga Nabi dengan menggunakan pendekatan sosiologi profetik.&#13;
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interdisipliner yang memadukan tafsir mauḍū’i terhadap ayat-ayat kisah keluarga Nabi dalam Al-Qur'an dengan teori-teori sosiologi keluarga. Data primer diperoleh dari ayat-ayat Al-Qur'an beserta kitab-kitab tafsir klasik dan kontemporer seperti TafsirAţ-Ţabarī, al- Mīzan, al-Tahrir wa al-Tanwir, dan al-Munīr. Sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur sosiologi keluarga dan teori sosiologi profetik yang dikembangkan Kuntowijoyo. Analisis dilakukan melalui metode sintetik-analitik untuk menemukan konstruksi teori ketahanan keluarga yang holistik integratif.&#13;
Penelitian ini mengukuhkan relevansi teori sosiologi profetik Kuntowijoyo (2004)sebagai kerangka konseptual yang mampu membaca ulang nilai-nilai Al-Qur'an secara kontekstual dalam menghadapi tantangan sosial kontemporer. Dengan menelaah kisah-kisah keluarga para nabi  jika dibaca melalui pendekatan tafsir maudhu’i dan didekati dengan paradigma sosiologi profetik, berfungsi sebagai data wahyu yang sahih dan otoritatif dalam membentuk konsep sosial, termasuk konsep ketahanan keluarga, ditemukan bahwa nilai-nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi bukan hanya terartikulasikan secara naratif, tetapi juga membentuk struktur ketahanan keluarga yang integral. Penelitian ini juga secara tidak langsung menguatkan metodologi tafsir maqāshidi dalam menemukan aspek tujuan  Al-Qur'an baik aspek maqāshid syariah ataupun aspek maqāshid Al-Qur'an.   &#13;
Penelitian ini menawarkan konstruksi konsep  baru tentang  “Ketahanan Holistik Keluarga Profetik”, yakni model teoritis yang menempatkan keluarga sebagai subjek aktif perubahan sosial berbasis spiritualitas transendental dan nilai-nilai profetik. Konsep  ini bukan hanya hasil analisa studi ayat kisah dengan pendekatan sosiologi profetik yang dikembangkan Kuntowijoyo, tetapi juga memperluasnya dengan menegaskan pentingnya narasi Qur’ani sebagai basis epistemologis dalam membangun konsepsi sosiologis yang berbasis wahyu. darinya dapat ditarik prinsip-prinsip sosial yang dapat diformulasikan ke dalam bangunan teori, bukan sekadar normatif-teologis, tetapi juga ilmiah-sosiologis. Oleh karena itu, konsep “Ketahanan Holistik  Keluarga Profetik” yang ditawarkan dalam disertasi ini berpijak pada Qur’an tidak hanya sebagai teks suci, tetapi sebagai sumber ilmu sosial yang transendental dan kontekstual.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4820</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Antisemitisme dalam Tafsir Haraki (Studi Kritik-Komparatif Tafsir Fi Zilal Al-Qur’an dan Min Wahyi Al-Qur’an)</title>
<link>https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4807</link>
<description>Antisemitisme dalam Tafsir Haraki (Studi Kritik-Komparatif Tafsir Fi Zilal Al-Qur’an dan Min Wahyi Al-Qur’an)
Mohamad Mualim, 321440080
Penelitian ini tentang penafsiran bernuansa antisemitisme dalam tafsir ḥaraki, dan pengaruhnya terhadap terhadap kelompok pergerakan, baik langsung maupun tidak langsung, dalam kaitan politik maupun non politik. Riset ini penting dilakukan untuk memberikan wawasan lebih luas dalam memahami tafsir agar sesuai dengan panduan Al-Qur’an.&#13;
Disertasi ini sejalan dengan karya Muhammad Asgar Muzakki (2025) dalam disertasinya tentang “Hadis-hadis bercorak antisemitisme: tinjauan hermeneutika fazlur rahman atas hadis konflik dan prediktif.” pada sisi kajian Antisemitiseme dalam terkait konflik dan prediksi. Berbeda dengan karya Abdullah Al-Thail, dalam bukunya “Yahudi Sang Penghancur Dunia” pada cara mendudukkan Semit atau Yahudi, terlebih di era konflik dan peperangan seperti yang terjadi pada kelompok pejuang Gaza-Palestina, Hizbullah, Houthi, Iran Melawan Israel ataupun kelompok pejuang yang lain dan tentu hal itu penting karena menjadi acuan dalam memupuk berbagai hal dalam situasi yang terjadi.&#13;
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif library riset, dengan pendekatan historiografi dengan teknik analisis Kritik-Komparatif. Adapun sumber penelitian menggunakan sumber primer berupa kitab tafsir Fī Ẓilᾱl Al-Qur’an karya Sayyid Qutb dan Min Wahil Qur’an karya Sayyid Husayn Fadlallah. Serta data sekunder dari berbagai jurnal, artikel dan karya lainnya yang relevan. Data-data tersebut akan dianalisis secara kritis-komparatif menggunakan pendekatan historis.&#13;
Disertasi ini membuktikan bahwa: Pertama, tafsir yang ditulis oleh tokoh bermadzhab Sunni, Sayyid Qutb (w.1966) cukup tajam dalam mengkritik hal-hal terkait semitisme. Konsep yang digunakan tidak eksplisit namun lebih pada penggunaan bahasa yang implisit terkait Bani Israil dan Yahudi, menggunakan bahasa yang sangat kritikal, ideologis, dan konfrontatif terhadap mereka, dengan menekankan watak permusuhan, pengkhianatan, dan penyimpangan historis kaum Yahudi terhadap risalah Ilahi. Kedua, tafsir yang ditulis oleh tokoh bermadzhab syiah imamiyyah, Husayn Fadlallah (w. 2010) cenderung lebih moderat dalam menjelaskan terkait semitisme dalam Al-Qur’an. Ia menghindari pendekatan yang generalis atau emosional terhadap kaum Yahudi. Ia lebih analitis, kontekstual, dan kritis secara sosial-politik, serta tetap menjaga etika keilmuan dan objektivitas historis dalam membaca ayat-ayat tentang Bani Israil atau Yahudi. Ketiga, pengaruh tafsir Sayyiq Qutb lebih kuat dalam pergerakan yang bergembang dalam kelompok Ikhwanul Muslimin, dibanding pengaruh tafsir Min Wahyi Al-Qur’an terhadap kelompok gerakan Hezbullah di Lebanon.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4807</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
