Abstract:
Gejala burnout akibat tekanan kehidupan kontemporer telah mengancam
keseimbangan hidup berbagai kalangan masyarakat, yang tercermin melalui
kejenuhan emosional, hilangnya semangat, dan penurunan efektivitas kerja.
Apabila dibiarkan, kondisi ini dapat berdampak pada menurunnya kualitas
pelaksanaan ritual keagamaan dan hubungan interpersonal dalam komunitas
Muslim. Sementara itu, dalam ajaran Islam menegaskan bahwa fisik dan psikis
adalah titipan Allah SWT yang wajib dipelihara dengan proporsional. Prinsipprinsip tersebut telah tercermin dalam karya penafsiran Hamka melalui Tafsir
al-Azhar, yang mengandung arahan self-care untuk menjaga vitalitas jasmani,
keharmonisan batin, dan kesejahteraan menyeluruh.
Studi ini dimaksudkan untuk menggali interpretasi Hamka atas ayat-ayat
Al-Qur’an yang mengandung konsep self-care serta menelaah kesesuaiannya
dengan teori PERMA karya Martin Seligman sebagai kerangka kesejahteraan
komprehensif dalam menangani burnout. Metodologi yang diterapkan adalah
kualitatif dengan strategi tafsir tematik (maudhu’i). Data primer bersumber
dari Tafsir al-Azhar pada ayat-ayat yang dipilih, meliputi QS. al-Ḥujurāt
[49]:10, QS. al-A’rāf [7]:31, QS. al-Baqarah [2]:195, QS. ar-Ra’d [13]:28, QS.
Ibrāhīm [14]:7, dan QS. al-Insyirāḥ [94]:5-7, sementara data sekunder
diperoleh dari pustaka ilmiah mengenai self-care, burnout, dan teori PERMA.
Proses analisis dilaksanakan dengan menghubungkan kandungan tafsir Buya
Hamka terhadap lima komponen PERMA: Positive Emotion, Engagement,
Relationships, Meaning, dan Accomplishment.
Temuan riset memperlihatkan bahwa interpretasi Hamka mengutamakan
harmonisasi antara aktivitas spiritual dan pemenuhan kebutuhan personal,
pengendalian diri dari perilaku ekstrem, sikap bersyukur, partisipasi
konstruktif dalam interaksi sosial, serta target pencapaian yang masuk akal.
Nilai-nilai tersebut berkorelasi dengan konsep PERMA dan memberikan
sumbangan berarti sebagai langkah preventif dan kuratif terhadap burnout
secara menyeluruh. Sinergi antara ajaran Al-Qur’an dan teori kesejahteraan modern ini tidak hanya menguatkan dimensi spiritualitas umat, melainkan juga
menyediakan alternatif solusi aplikatif yang sesuai dengan permasalahan
psikologis dan sosial masa kini.