DSpace Repository

Hedonisme Perspektif Al-Qur’an (Analisa Penafsiran Ayat-Ayat Perilaku Menyimpang Manusia dalam Tafsir Al-Munir Wahbah Az-Zuhaili (W. 2015 M))

Show simple item record

dc.contributor.advisor Ade Naelul Huda
dc.contributor.author Alip Eko Prasetiyo, 224411243
dc.date.accessioned 2026-07-24T10:02:54Z
dc.date.available 2026-07-24T10:02:54Z
dc.date.issued 2026
dc.identifier.uri https://repository.iiq.ac.id//handle/123456789/4826
dc.description.abstract Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena hedonisme dalam perspektif sosiologi Al-Qur’an melalui penafsiran ayat-ayat yang berkaitan dengan perilaku menyimpang manusia dalam Tafsir Al-Munīr karya Wahbah az-Zuhaili. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada meningkatnya gejala gaya hidup modern yang cenderung konsumtif, materialistik, dan berorientasi pada kesenangan sesaat, seperti budaya flexing, pencarian validasi sosial, serta kompetisi status yang berdampak pada degradasi moral dan spiritual. Penelitian ini memfokuskan pada enam term kunci dalam Al-Qur’an, yaitu isrāf, tabdzīr, lahwun wa la‘bun, at-takāthur, fakhūr, dan riyā’ sebagai representasi konseptual dari perilaku hedonistik dalam kehidupan manusia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Pendekatan yang digunakan adalah tafsir tematik (maudhu‘ī) dengan menjadikan Tafsir Al-Munīr sebagai sumber primer. Teknik analisis data dilakukan melalui content analysis dengan mengintegrasikan penafsiran teks Al-Qur’an dan realitas sosial masyarakat modern, sehingga menghasilkan pemahaman yang komprehensif antara dimensi teologis dan sosiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hedonisme dalam perspektif Al-Qur’an merupakan bentuk penyimpangan orientasi hidup yang ditandai oleh dominasi kesenangan duniawi dan pengabaian nilai spiritual. Konsep isrāf dan tabdzīr mencerminkan perilaku konsumsi berlebihan dan penyalahgunaan harta, lahwun wa la‘bun menggambarkan kehidupan yang terjebak dalam hiburan dan kelalaian, sedangkan at-takāthur menunjukkan obsesi terhadap akumulasi kekayaan dan status sosial. Adapun fakhūr dan riyā’ merepresentasikan sikap membanggakan diri serta pencarian pengakuan sosial yang memperkuat budaya pamer dalam masyarakat modern. Keenam konsep tersebut tidak hanya bersifat individual, tetapi juga membentuk pola sosial yang melahirkan gaya hidup hedonis secara kolektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Tafsir Al-Munīr memberikan kritik sosial yang relevan terhadap fenomena hedonisme modern serta menawarkan solusi melalui konsep moderasi (i‘tidāl), pengelolaan harta yang berorientasi ibadah (siyasah al-infaq), dan penguatan kesadaran spiritual. Dengan demikian, nilai-nilai Al-Qur’an memiliki relevansi yang kuat sebagai pedoman etika sosial dalam menghadapi arus modernitas, agar manusia mampu menjalani kehidupan secara seimbang antara kepentingan dunia dan orientasi akhirat. en_US
dc.language.iso id en_US
dc.publisher Program Pascasarjana IIQ Jakarta en_US
dc.subject Hedonisme en_US
dc.subject Sosiologi Al-Qur’an en_US
dc.subject Tafsir Al-Munir en_US
dc.subject Wahbah az-Zuhaili en_US
dc.title Hedonisme Perspektif Al-Qur’an (Analisa Penafsiran Ayat-Ayat Perilaku Menyimpang Manusia dalam Tafsir Al-Munir Wahbah Az-Zuhaili (W. 2015 M)) en_US
dc.type Tesis en_US


Files in this item

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record

Search DSpace


Advanced Search

Browse

My Account

Statistics