Abstract:
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tantangan pendidikan Islam di era Society 5.0 yang ditandai oleh perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), disrupsi dunia kerja, serta kebutuhan mendesak akan generasi entrepreneur yang adaptif, kreatif, dan berlandaskan nilai-nilai spiritual Islam. Di sisi lain, khazanah klasik Islam, khususnya Kitab Al-Kasb karya Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani (w. 189 H/804 M), menyimpan nilai-nilai kewirausahaan Islami yang kaya namun belum ditransformasikan secara sistematis ke dalam praktik pendidikan Islam kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik entrepreneur dalam Kitab Al-Kasb; (2) merumuskan relevansi karakteristik tersebut bagi pendidikan Islam; dan (3) mensintesiskan karakter entrepreneur dari Al-Kasb sebagai respons terhadap tantangan AI di era Society 5.0.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data primer bersumber dari Kitab Al-Kasb, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur kewirausahaan Islami, teori pendidikan Islam kontemporer, kajian kecerdasan buatan, dan paradigma Society 5.0. Teknik analisis data menggunakan content analysis dengan pendekatan hermeneutik untuk mereinterpretasi nilai-nilai klasik secara kontekstual. Keabsahan data diuji melalui prinsip trustworthiness yang meliputi credibility, transferability, dependability, dan confirmability.
Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, Kitab Al-Kasb mengandung delapan karakteristik entrepreneur yang membentuk sistem nilai terpadu, meliputi: tawakkal produktif, al-tawassut (moderasi dalam pengelolaan harta), komitmen terhadap pekerjaan, kesederhanaan dalam gaya hidup, sikap selalu belajar dan berinovasi, kepekaan sosial, komunikatif, dan manajemen keuangan yang baik. Keunikan karakter-karakter ini terletak pada kesatuannya dalam tiga dimensi sekaligus, yakni dimensi spiritual-transendental, dimensi etis-moral, dan dimensi kompetensi-profesional yang tidak ditemukan secara utuh dalam konsep entrepreneur Barat. Kedua, karakteristik entrepreneur dalam Al-Kasb memiliki relevansi yang kuat dan aplikatif bagi pendidikan Islam kontemporer. Nilai-nilai tersebut ditransformasikan ke dalam Model Transformasi Entrepreneur Islami Berbasis AI (TEI-AI) yang mencakup empat komponen: kurikulum terintegrasi berbasis nilai, pembelajaran aktif berbasis proyek dan AI, transformasi peran pendidik sebagai murabbi dan teladan, serta pengembangan ekosistem pembelajaran digital yang etis dan human-centered. Ketiga, sintesis antara karakter entrepreneur Al-Kasb dan kecerdasan buatan menghasilkan konsep Islamic Human Capacity di era AI, yaitu kapasitas manusia muslim yang mampu mengoptimalkan teknologi sebagai alat kekhalifahan dengan tetap berpijak pada nilai-nilai spiritual dan etika Islam, sehingga menjadi pelaku yang mengendalikan teknologi bukan yang diperbudaknya.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi nilai-nilai spiritual Al-Kasb dengan teknologi modern AI bukan hanya mungkin, melainkan niscaya sebagai jawaban pendidikan Islam atas tantangan era Society 5.0. Warisan intelektual Islam klasik terbukti memiliki daya relevansi yang melampaui zamannya dan mampu menjadi fondasi bagi lahirnya entrepreneur muslim yang berkarakter kuat, melek teknologi, dan berkontribusi bagi kemaslahatan umat.